Semua ibu di dunia ini tentu mengharapkan kelahiran anaknya dengan sehat, namun bila dikaruniai seorang anak yang lahir prematur, bukan berarti anda tidak menerima keberadaanya sepenuh hati. Penyebab terjadinya kelahiran prematur umumnya tidak diketahui. Namun, 15% dari kelahiran prematur ditemukan pada kehamilan ganda (di dalam rahim terdapat lebih dari satu janin). Beberapa pakar medis menyebutkan, jarak kehamilan terlalu dekat, aktivitas fisik berlebihan, dan perilaku (buruk) ibu seperti perokok berat, pecandu minuman keras dan obat-obatan terlarang, juga berpotensi mengundang persalinan prematur.
Bukan rahasia umum lagi jika kelahiran bayi prematur, memiliki beberapa masalah seperti otak, jantung, organ pencernaan, paru-paru, telinga dan seluruh organ lain yang belum sempurna bahkan ketidakmatangan organ mata yang bisa menyebabkan kebutaan. Oleh karena itu bayi premature “wajib” tinggal di dalam incubator hingga cukup kuat nantinya untuk hidup tanpa perlindungan. Walaupun saat ini dengan teknologi di bidang neonatologi, bayi premature dengan berat lahir rendah akan bertahan hidup, tetapi tidak mampu menekan angka kejadian gangguan retina ( lapisan saraf mata) pada bayi premature, yang biasa disebut Retinopathy of Prematurity (ROP) ROP adalah penyakit/gangguan perkembangan pembuluh darah retina pada bayi yang lahir premature dan saat ini ROP merupakan penyebab kebutaan tertinggi pada anak anak di Amerika Serikat dan salah satu penyebab utama kebutaan pada anak di seluruh dunia. Hal ini dilaporkan pada tahun 1980, dimana sebanyak 7 ribu anak di Amerika Serikat dinyatakan buta akibat ROP dan setiap tahunnya terdapat 500 anak buta karena menderita ROP akibat kelahiran prematur Selain itu para peneliti di Jakarta juga mendapati kasus ROP pada sekitar 70% bayi premature. Apa penyebab ROP ? Normainya, retina atau bagian mata yang memiliki fungsi sebagai penerima bayangan objek sebelum diolah di otak, mulai terbentuk pada usia kehamilan 16 minggu. Retina ini akan mendapat suplai makanan melalui pembuluh darah yang tumbuh dari saraf optic menuju bagian tepi retina. Pembuluh darah retina sendiri terbentuk sempurna sekitar 2 minggu setelah bayi dilahirkan pada usia kehamilan normal, yaitu sekitar 40 minggu. Pada bayi prematur, dimana bayi lahir sebelum pembuluh darah retina terbentuk secara sempurna, dapat terjadi berupa terbentuknya garis demarkasi antara daerah yang sudah tumbuh pembuluh darah dengan yang belum, sehingga timbul stimulus pembentukan pembuluh darah baru yang abnormal. Proses ini dapat sembuh secara spontan ( regresi) atau sebaliknya berkembang menjadi keadaan yang lebih buruk, yang disebut retinal detachment atau ablosia retina ( lepasnya retina), yang dapat menyebabkan kebutaan pada satu atau bahkan kedua belah mata. Penelitian multisenter di Amerika Serikat melaporkan adanya peningkatan resiko ROP pada bayi premature dengan berat lahir yang lebih ringan dan usia kehamilan yang lebih muda. Meskipun demikian, di Negara Negara berkembang termasuk Indonesia. Bayi – bayi yang mengalami ROP cenderung memiliki usia gestasi yang lebih tua dan berat lahir yang lebih besar dibandingkan dengan laporan yang terdapat pada negara-negara maju. Selain prematuritas dan timbangan berat lahir yang rendah, beberapa peneliti menduga bahwa pemberian oksigen dapat merangsang terbentuknya ROP, namun, ternyata terbukti bahwa tidak semua bayi premature yang diberi oksigen akan menderita ROP, dan sebaliknya terdapat laporan ditemukannya ROP pada bayi premature yang tidak diberikan suplemen oksigen. Oleh sebab itu, predictor utama untuk terjadinya ROP adalah usia gestasi dan berat bayi pada saat lahir. Faktor resiko ROP lainnya biasanya disebabkan oleh gangguan pernafasan dan gangguan jantung. Gangguan yang kerap ditemukan pada bayi yang baru lahir seperti sepsis, anemia atau kuning juga meningkatkan resiko terjadinya ROP. Perlu diketahui bahwa proses ROP tidak dapat dihentikan sekalipun dengan penanganan maksimal. Komplikasi lain , seperti retinal detachment, ambliopia (mata malas), juling, bola mata mengecil, katarak, dan glukoma juga dapat terjadi bayi dengan ROP. Saat ini ROP adalah tantangan terbesar bagi semua dokter yang menangani bayi premature. Hal yang paling penting dalam pencegahan ROP adalah mencegah agar bayi tidak lahir premature, oleh karenanya pemeriksaan antenatal yang baik selama kehamilan sangatlah penting. Kelahiran dini sebenarnya dapat dicegah. Hal ini dapat terjadi kalau penyebabnya sudah diketahui, sehingga penanganan bisa segera dilakukan. Ibu yang sedang hamil dianjurkan istirahat dan lebih berhati – hati, demikian juga pada ibu yang mengalami stress disarankan untuk istirahat total, baik fisik maupun psikis. Pada keadaan ini, penanganan sering tanpa pemberian obat-obatan. Jika termasuk golongan beresiko tinggi melahirkan prematur cara yang bisa dilakukan adlah selalu rutin memeriksakan diri ke dokter dan jika selama ini ibu seorang pekerja sebaiknya aktifitas selama hamil dibatasi untuk menghindari kelelahan. Jangan terlalu membebani diri dengan persoalan yang bisa menyebabkan stress. Dan terpenting hentikan kebiasaan buruk seperti merokok, minum-minuman berakohol dan obat obatan tanpa konsultasi dengan dokter. Dan yang paling penting untuk diingat, sebaiknya ibu tidak melanggar anjuran dokter karena bisa bisa si kecil tak sabar ingin melihat dunia, meskipun itu bisa membahayakan kesehatannya.