Pulomas DOCTORS

dr. Andina Bulan Sari, SpKK

Doctor

Pulomas dr. Andina Bulan Sari

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin / Dermatovenereologist

Specialities

  • S2 Dokter Spesialis Dermatovenereologist di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, pada 2009-2014
  • S1 Dokter Umum di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Pada  2002-2008

Pengalaman Kerja

  • Zap Premiere Sumarecon Bekasi, Zap Premiere Kokas
  • RS Hermina Galaxy
  • Bamed Clinic Menteng
  • Erha Clinic Harapan Indah
  • Tropic Infection Division Staff of Dermatovenereology Department, Cipto Mangunkusumo Hospital
  • Sakti Medika Clinic
  • RS Karya Medika II Tambun

Association/Society Membership

  • Member of Indonesian Society of Dermatology and Venereology
  • Member of Indonesian Pediatric Dermatology Study Group
  • Member of Dermatomycology and Tropic Infection Study Group
  • Member of Indonesian Sexually Transmitted Diseases Study Group

Training/Courses

  • Department of Dermatology National Taiwan University Hospital, Taipei (infection, phototheraphy, and wound healing)
  • Pelatihan auditor cuci tangan, RSCM, Jakarta
  • Pelatihan ketrampilan dasar bedah

Speaker/Instructor

  • Current update in dermatology and venereology: a practical approach: Bamed Clinical Meeting 2017
  • Simposium dan workshop JAKDERM 2017: Pendekatan diagnostik dan penerapan dermatoterapi berbasis bukti
  • Seminar pra-internship ILUNI FKUI 2016
  • Serba serbi penyakit kulit dan kelamin di seputar masyarakat kawasan industry

Research and Scientific Publication

  • Perbandingan Efektivitas dan Efek Samping antara Tingtur Podofilin 25% dan Larutan Asam Trikloroasetat 90% untuk Terapi Kondilomata Akuminata Genitalia Eksterna dan/atau Perianal (author, released)
  • Xantomatosis pada hiperkolesterolemia familial (author,released)
  • Rinofima (co-author, released)
  • Terapi propranolol oral pada hemangioma infantile (co-author, released)
  • Case series: secondary syphilis in HIV-infected patient (co-author, released)
  • Erythroderma caused by pemphigus foliaceous with hyperimmunogobuline E in a child (author, released)
  • Tinea kapitis di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta periode tahun 2005-2010 (author, released)
  • Kenali Maskne : Akne Akibat Penggunaan Masker

    Sejak pandemik Covid-19 melanda, masker merupakan salah satu hal yang wajib dipakai saat hendak beraktivitas di luar rumah. Namun, penggunaan yang lebih sering ini menimbulkan masalah baru yaitu akne atau

    Read More

    Sejak pandemik Covid-19 melanda, masker merupakan salah satu hal yang wajib dipakai saat hendak beraktivitas di luar rumah. Namun, penggunaan yang lebih sering ini menimbulkan masalah baru yaitu akne atau yang kemudian disebut dengan istilah Maskne. Maskne atau mask akne adalah jerawat yang terbentuk di area yang tertutup masker, yaitu pada hidung, dagu, atau area pipi bawah.

    Penyebab Munculnya Maskne

    Maskne merupakan salah satu bentuk dari akne mekanika, dimana penggunaan masker dalam jangka lama akan menyebabkan kulit wajah terus bergesekan dengan masker. Hal ini dapat memicu iritasi dan peradangan pada kulit. Tenaga kesehatan dan frontliner mempunyai risiko lebih tinggi untuk terkena karena penggunaan masker yang lebih ketat dan lama.

    Saat kita berbicara dan menghela napas juga dapat menyebabkan hawa panas terjebak di dalam masker dan menyebabkan kulit wajah menjadi lebih berkeringat dan lembab. Hal ini dapat menjadi tempat yang baik bagi bakteri, jamur, dan flora lain misalnya Demodex (salah satu jenis tungau kulit) untuk berkembang biak.

    Selain itu, penggunaan masker yang tidak tepat juga dapat menimbulkan masalah. Masker bedah yang dipakai berulang kali atau masker kain yang cara pencuciannya tidak tepat dapat menjadi sumber pertumbuhan bakteri dan jamur.

    Bagaimana Cara Mencegah Maskne

    • Gunakan masker dengan bijak

    Pilihlah masker sesuai dengan situasi dan kondisi kita. Apabila menggunakan masker bedah, hendaknya tidak digunakan seharian penuh atau berulang kali. Masker dapat diganti setiap 4 jam, sehingga jika beraktivitas hendaknya membawa beberapa masker cadangan. Sama halnya dengan penggunaan masker kain. Bahan masker kain yang nyaman adalah yang terbuat dari katun karena bahan ini dapat memberikan sirkulasi  udara yang lebih baik sehingga memberikan kesempatan kulit untuk “bernapas“. Untuk masker kain cara pencucian harus khusus, yaitu dengan air panas untuk membunuh bakteri yang menempel di permukaan kulit dan menggunakan deterjen yang bebas pewangi.

    • Gunakanlah basic skincare

    Jangan menggunakan terlalu banyak bahan skincare, karena penggunaan masker dapat meningkatkan penghantaran produk skincare (terutama yang mengandung asam dan retinol) ke kulit sehingga risiko iritasi lebih besar. Gunakanlah skincare dasar yang penting untuk kulit, yaitu cleanser dan moisturizer.

    1. Pilihlah pembersih muka yang bersifat gentle non-soap cleanser dan sesuaikan dengan jenis kulit kita. Penggunaan pembersih wajah yang tidak sesuai dengan jenis kulit justru dapat memicu jerawat. Bersihkanlah muka setelah kita beraktivitas dengan menggunakan masker.
    2. Gunakanlah pelembab yang ringan dan fragrance-free. Penggunaan pelembab selain untuk melembabkan kulit juga memproteksi dari gesekan masker.
    • Menggunakan tabir surya

    Penggunaan tabir surya saat aktivitas ke luar rumah juga penting. Tabir surya yang mengandung zinc dan titanium dapat mencegah iritasi wajah akibat penggunaan masker.

    • Hindari penggunaan make up yang terlalu tebal

    Apabila sedang berjerawat sebaiknya justru hindari dahulu penggunaan make up. Make up yang tebal dapat menyumbat pori-pori kulit dan memicu timbulnya jerawat.

    Demikianlah langkah langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah maskne. Namun, satu hal yang perlu diingat adalah dalam kondisi pandemik seperti saat ini penggunaan masker tetaplah yang terpenting. Dengan menggunakan masker kita melindungi diri kita dan orang di sekitar kita dari tertular virus Covid-19. Salam sehat !

    Sumber : Tim Dokter Spesialis Kulit & Kelamin - OMNI Hospitals

  • MANIFESTASI KULIT PADA COVID-19

    Kasus pneumonia yang tidak jelas pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina pada bulan Desember 2019. Sebuah virus corona baru yang dinamakan sebagai Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) telah diisolasi dari

    Read More

    Kasus pneumonia yang tidak jelas pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina pada bulan Desember 2019. Sebuah virus corona baru yang dinamakan sebagai Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) telah diisolasi dari swab saluran napas bagian bawah pada pasien yang terinfeksi. Penyakit virus ini kemudian dinamakan COVID-19 (Coronavirus Disease 2019). Infeksi COVID-19 memberikan gejala klinis berupa demam, kelelahan, batuk kering, anoreksia, sesak napas, rhinorea, augesia, dan anosmia. Namun, selain gejala-gejala tersebut juga dapat timbul gejala pada organ lain, termasuk kulit.

    Berbagai studi menunjukkan Angiotensin Converting Enzyme 2 (ACE2) merupakan reseptor di sel membran pejamu, dengan afinitas yang tinggi terhadap protein (S) SARS-CoV-2. ACE2 diekspresikan di sel epitel usus, ginjal, pembuluh darah, dan paling banyak di sel alveolus tipe II di paru-paru. ACE2 juga diekspresikan di lapisan sel basal epidermis sampai ke lapisan sel basal folikel rambut. Hal inilah yang menyebabkan infeksi COVID-19 bisa memberikan manifestasi pada kulit

    Manifestasi kulit dapat mengenai 20,4% pasien yang terinfeksi COVID-19. Namun, manifestasi kulit ini tidak spesifik dan dapat ditemukan pada penyakit kulit lainnya. Berikut adalah beberapa manifestasi kulit yang sering ditemui dari berbagai laporan:

    1. Ruam kemerahan (confluent erythematous/makulopapular/morbiliformis)

    Gambaran klinis bisa bervariasi, mulai dari ruam kemerahan di kulit, bercak merah yang bisa disertai sisik, dan ruam kemerahan menyerupai campak. Bisa juga terdapat lesi purpura. Biasanya mengenai area tubuh yang luas, simetris, dan dimulai dari batang tubuh yang kemudian menyebar ke area tubuh lainnya, sering disertai rasa gatal. Seringnya muncul setelah gejala sistemik infeksi COVID-19 terjadi dengan derajat penyakit COVID-19 yang berat.

    2. Urtikaria (biduran)

    Terutama mengenai area batang tubuh dan anggota gerak. Biasanya muncul bersamaan dengan keluhan sistemik, menetap selama 1 minggu, dan berkaitan dengan gejala COVID-19 derajat sedang-berat. Keluhan gatal hampir selalu dikeluhkan pasien. Adanya lesi biduran dengan demam tanpa gejala pernapasan dilaporkan dapat menjadi gejala awal infeksi COVID-19, sehingga jika terdapat kondisi ini hendaknya waspada dan segera isolasi diri.

    3. Pseudo-chillblain

    Lesi ini dideskripsikan sebagai bercak kemerahan-keunguan yang mengenai area kaki, dan lebih jarang pada tangan. Menimbulkan gejala nyeri/sensasi terbakar, gatal, tetapi kadang tidak bergejala. Bisa terdapat lesi berupa lenting. Mengenai usia lebih muda, muncul di bagian akhir penyakit COVID-19, dan berkaitan dengan derajat penyakit yang ringan.

    4. Papulovesikular

    Biasanya mengenai batang tubuh dan berupa lenting kecil monomorfik (berbeda dengan lenting pada cacar yang bersifat polimorfik). Juga bisa mengenai area lengan dan tungkai. Mengenai pasien usia pertengahan, muncul lebih dini dibandingkan gejala lain dan berkaitan dengan tingkat keparahan penyakit yang sedang. Keluhan gatal biasanya ringan.

    5. Livedo reticularis/racemosa-like pattern

    Lesi kulit digambarkan sebagai bercak kebiruan-kehitaman dengan susunan seperti renda, membentuk cincin dengan area tengah lebih pucat. Mengenai pasien usia tua dengan tingkat keparahan penyakit COVID-19 sedang-berat.

    6. Pola purpurik vaskulitis

    Lesi menyerupai gambaran kulit pada pasien dengan demam berdarah, yaitu purpura. Bisa berkembang menjadi lenting berisikan darah. Merupakan lesi kulit yang jarang ditemukan, biasanya mengenai usia tua dengan derajat penyakit COVID-19 berat. Area dapat generalisata, bisa mengenai lipatan, atau area akral.

    Demikianlah berbagai manifestasi kulit yang paling sering ditemukan dari berbagai laporan. Manifestasi kulit yang dilaporkan pada pasien COVID-19 tidak spesifik dan dapat ditemukan pada kelainan kulit yang lain, maka pada kasus-kasus dengan manifestasi klinis tersebut diperlukan kewaspadaan lebih saat melakukan pemeriksaan. Anamnesis yang cermat terkait COVID-19 disertai penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang tepat harus dilakukan untuk mengantisipasi penularan terhadap tenaga kesehatan.

    Sumber :

    1. Tim Satgas COVID-19 Perdoski. Pandemi COVID-19 dan Implikasinya Terhadap Praktik Dermatologi dan Venereologi di Indonesia. PERDOSKI. April 2020.
    2. Marraha F, Al Faker I, Gallouj S. A Review of the Dermatological Manifestations of Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Derm Research and Practice. 2020. https://doi.org/10.1155/9360476.
    3. Genovese G, Moltrasio C, Berti E, Marzano AV. Skin Manifestations Associated with COVID-19: Current Knowledge and Future Perspectives. Dermatol. 2020. DOI: 10.1159/000512932.
    4. Casas CG, Catala A, Hernanderz GC, Rodriguez-Jimenez P, Nieto DF, et al. Classification of the Cutaneous Manifestations of COVID-19: A Rapid Prospective Nationwide Consensus Study in Spain with 375 Cases. 2020. DOI: 10.1111/BJD.19163

    dr-Andina

    Artikel ditulis oleh dr. Andina Bulan Sari, Sp.KK, Dokter Spesialis Kulit & Kelamin OMNI Hospital Pekayon

    Pendidikan & pelatihan dr. Andina Bulan Sari, Sp.KK : 

    • S2 Dokter Spesialis Dermatovenereologist di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, pada 2009-2014
    • S1 Dokter Umum di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Pada  2002-2008

    Jadwal praktek :

    Rabu &  Jumat : Pk. 09.00 - 11.00 WIB

Jadwal Praktek Dokter

Senin  & Kamis          :   18.00 - 20.00 WIB

Jumat                         :   09.00 - 11.00 WIB