Pulomas DOCTORS

dr. Steesy Benedicta, M.Ked.Klin, Sp.OT

Doctor

Pulomas dr. Steesy Benedicta, M.Ked.Klin

Dokter Spesialis Orthopedi & Traumatologi

Riwayat Pendidikan 

  • Pendidikan dokter umum di Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya, Jakarta (2003 - 2011)
  • Pendidikan Dokter Spesialis Ortopaedi & Traumatologi combined degree Magister Kedokteran Klinik, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia (2014 - 2020)
  • Fellowship Knee Surgery & Arthroscopy, Graduate School of Biomedical and Health Sciences, Hiroshima University, Hiroshima, Japan (25 Juni – 19 September 2019)

Pendidikan Tambahan

  • 2014 : 1. Personal Improvement Training FK Unair/RSUD Dr. Soetomo, Surabaya
  • 2014 : 2. Casting Academy, Surabaya, Indonesia
  • 2016 : Lokakarya kebijakan rumah sakit RSUD Dr. Soetomo, Surabaya
  • 2018 : AO Trauma Course, Basic, Jakarta, Indonesia
  • 2018 : Pemaparan Good Clinical Practice, RSUD Dr. Soetomo, Surabaya

Karya Ilmiah

  • Tissue Engineering In Nerve Injury
  • Bilateral Traumatic Amputation of the Wrist Treated by Myoelectric Prosthesis (A Case Report) dipresentasikan pada 12th conference of Indonesian Orthopaedic Association, Tangerang, Indonesia
  • Upper cervical Schwannoma : A Case Report dipresentasikan pada 66th Continuing Orthopaedic Eduacation, Banjarmasin, Indonesia
  • Surgery of The Upper Cervical Spine in Surabaya: 35 years Experiences (Retrospective Analysis) dipresentasikan pada 14th Bussiness Meeting of Idonesian Orthopaedic Association, Bandung, Indonesia dan 10th Anniversary Meeting Cervical Spine Research Society – Asia Pacific Section
  • Evaluasi 1 tahun pasca operasi rekonstruksi dengan teknik transportal pada pasien cedera ligament cruciatum anterior di Surabaya pada tahun 2008-2017
  • Peningkatan Angka Union dan Perbaikan Fungsional pada pasien dengan patah tulang klavikula 1/3 tengah yang dilakkan Tindakan open reduksi internal fiksasi di Rumah Sakit Dr. Soetomo

Publikasi Journal

  • Schwannoma of the upper cervical spine–a case report. Chinese Journal of Traumatology. Accepted 18th August 2019. Chinese Journal of Traumatology 22(2019) 368-372. https://doi.org/10.1016/j.cjtee.2019.07.005
  • Clinical Outcome Evaluation in Anterior Cruciate Ligament Reconstruction using Transportal Technique Augmented with Platelet Rich Plasma (PRP) Injection. Hip Knee J. Vol. 1, No 1, 2020, pp.19-27
  • NYERI SEKITAR PERGELANGAN TANGAN (SINDROM CARPAL TUNNEL)

    Nyeri pada pergelangan tangan sering merupakan salah satu keluhan yang sering ditemui di masyarakat, dengan insidensi berkisar antara 1-5% dari seluruh populasi dan banyak terjadi pada wanita, dengan rentang usia

    Read More

    Nyeri pada pergelangan tangan sering merupakan salah satu keluhan yang sering ditemui di masyarakat, dengan insidensi berkisar antara 1-5% dari seluruh populasi dan banyak terjadi pada wanita, dengan rentang usia 30-60 tahun. Kejadian ini akan meningkat dengan banyaknya penggunaan tangan yang membutuhkan gerakan berulang pada pergelangan tangan, yang mana sangat familiar dengan kegiatan sehari-hari, seperti penggunaan computer, maupun kegiatan rumah tangga lainnya.

    Sindrom Carpal Tunnel (CTS) merupakan salah satu penyebab nyeri pergelangan tangan yang paling banyak ditemui, dan diakibatkan adanya penekanan pada saraf medianus yang berada di pergelangan tangan. Penyebab penekanan saraf ini bermacam-macam, bisa karena kelainan anatomi, infeksi, peradangan, kondisi metabolic seperti diabetes, maupun adanya peningkatan volume akibat kegemukan maupun kehamilan.

    Kebanyakan keluhan dari pasien dengan CTS utamanya diawali dengan adanya rasa nyeri sekitar pergelangan tangan, yang diikuti dengan rasa kesemutan dan baal yang semakin memberat pada malam hari. Kesemutan dapat dirasa terutama pada jari jempol hingga setengah jari manis sisi dalam tangan. Bila dibiarkan terlalu lama, maka kemampuan dan kekuatan menggenggam akan menurun, serta otot pada tangan akan mengecil.

    Pada penanganannya, tidak semua CTS membutuhkan operasi. Dibutuhkan kedisiplinan penderita untuk bisa sembuh tanpa operasi. Bila penderita datang pada tahap awal, dimana masih belum terdapat gejala seperti rasa baal dan otot yang mengecil, maka masih memungkinkan dilakukan terapi non-operatif seperti penggunaan splint selama 3 bulan dan mengurangi aktivitas. Penggunaan splint ini dianjurkan terutama pada saat beraktivitas, misal pada penderita yang erat dengan berkerja menggunakan mouse komputer. Penggunaan obat-obatan seperti obat nyeri dan anti-inflamasi dapat membantu mengurangi gejala, meskipun tidak dianjurkan untuk penggunaan dalam jangka waktu yang lama. Penyuntikan langsung ke daerah pergelangan tangan juga bisa dilakukan oleh dokter yang berpengalaman, tetapi harus diingat bahwa penyuntikan ini tidak dapat dilakukan berulang setiap kali gejala timbul.

    Pilihan operasi adalah pilihan terakhir yang dilakukan pada pasien yang tidak respon terhadap terapi konservatif dan pada pasien yang jelas ditemukan adanya jepitan saraf medianus yang berat. Operasi dilakukan dengan membuat sayatan pada pergelangan tangan dan kemudian membebaskan saraf yang terjepit. Perlu diketahui, bahwa pada kasus yang lama dan berat, terkadang keluhan tidak langsung berkurang, tetapi perlu waktu untuk mengembalikan fungsi saraf dan kekuatan otot untuk kembali ke semula.

    Ada beberapa latihan yang dapat dilakukan secara rutin untuk membantu mengurangi nyeri pada CTS, antara lain dengan melakukan menekuk pergelangan tangan keatas dan bawah, latihan mengepal-ngepalkan jari, menggenggam bola karet, maupun beberapa latihan dengan menggunakan beban. Sebelum latihan, dapat dilakukan kompres hangat selama 15 menit dan kompres dingin selama 15 menit setelah selesai latihan. Latihan ini dapat dilakukan 4 kali sehari selama 10-15 menit. Penggunaan splint pergelangan tangan pada malam hari juga sangat dianjurkan. Bila latihan dan mengistirahatkan pergelangan tangan ini dilakukan selama 4 minggu, maka diharapkan gejala CTS ini dapat berkurang dan pasien dapat melanjutkan aktivitas kembali.

    Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya CTS ini dalam kehidupan sehari-hari seperti mencegah gerakan pergelangan tangan yang memungkinkan jepitan saraf secara berulang. Bila terdapat nyeri pada pergelangan tangan akibat suatu aktivitas, sebaiknya dihentikan segera. Perhatikan posisi pergelangan tangan bila tidur atau sedang bersantai, sebaiknya posisi lurus, hindari mengangkat beban berat dengan menggunakan tenaga dari pergelangan tangan, aktivitas seperti menggunakan mouse komputer atau menulis harus memperhatikan posisi dan waktu, sebaiknya jangan terlalu lama pada posisi yang sama, dan hindari menggunakan alat pertukangan yang menimbulkan getaran seperti palu.

    Pulomas dr. Steesy Benedicta, M.Ked.Klin

    Artikel ditulis oleh dr. Steesy Benedicta, M. Ked. Klin, Sp.OT (Dokter Spesialis Orthopedi & Traumatologi OMNI Hospital Pulomas)

    Pendidikan & Pelatihan dr. Steesy Benedicta, M. Ked. Klin, Sp.OT :

    • Pendidikan dokter umum di Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya, Jakarta (2003 - 2011)
    • Pendidikan Dokter Spesialis Ortopaedi & Traumatologi combined degree Magister Kedokteran Klinik, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia (2014 - 2020)
    • Fellowship Knee Surgery & Arthroscopy, Graduate School of Biomedical and Health Sciences, Hiroshima University, Hiroshima, Japan (25 Juni – 19 September 2019)

    Jadwal praktek nya :

    Senin, Rabu & Jumat    : Pk. 08.00 - 14.00 WIB & Pk. 18.00 - 20.00 WIB

    Selasa & Kamis             : Pk. 15.00 - 20.00 WIB

    Sabtu                             : Pk. 09.00 - 15.00 WIB

  • PLANTAR FASCIITIS

    Pernahkah anda merasakan nyeri pada tumit saat bangun pagi hari yang semakin memberat atau anda penggiat olahraga jogging / lari yang pernah merasa nyeri pada tumit saat berlari? Maka anda

    Read More

    Pernahkah anda merasakan nyeri pada tumit saat bangun pagi hari yang semakin memberat atau anda penggiat olahraga jogging / lari yang pernah merasa nyeri pada tumit saat berlari? Maka anda mungkin saja anda menderita plantar fasciitis. Keluhan pada tumit biasanya kronik dan mempunyai insidensi yang tinggi, sekitar 10% dari populasi, dimana kebanyakan terdapat pada wanita paruh baya yang memiliki kelebihan berat badan, atau pada atlit muda. Meskipun sebagian besar tidak membutuhkan terapi operasi, tetapi pengobatannya membutuhkan kesabaran penderita.

    Untuk dapat memahami penyakit ini, maka ada baiknya kita mengerti dahulu sedikit anatomi dari tumit. Tulang calcaneus, atau tulang tumit dipisahkan dari kulit oleh sekumpulan serat otot dan lemak yang berbentuk seperti sarang tawon dan berperan sebagai penyerap daya atau shock absorber. Plantar fascia merupakan sekumpulan otot yang berbentuk menyerupai kipas dan mempunyai lima jalinan dan menempel pada tulang tumit. Pada kulit di daerah tumit, terdapat persarafan yang akan memberikan rasa nyeri bila mengalami penekanan atau rangsangan.

    Plantar fasciitis terjadi akibat adanya degenerasi dari plantar fascia yang diakibatkan gerakan berulang dan robekan micro yang menyebabkan terjadinya rekasi radang. Penyebab plantar fasciitis ini sendiri dipercaya merupakan hasil dari multifaktorial, dengan adanya biomekanik yang tidak normal dan penyembuhan yang tertunda sebagai faktor kontribusinya. Beberapa faktor resiko yang menyebabkan terjadinya plantar fasciitis adalah kaki datar (flatfeet), lengkung tinggi (high arches), tendon achiles atau otot betis yang tegang, otot-otot kaki bagian dalam yang menegang, perbedaan panjang kaki, obesitas, aktivitas berlari atau jalan yang lama, penggunaan sepatu yang tidak sesuai dan postur jalan yang tidak pas.

    Keluhan utama pasien datang ke dokter biasa adalah adanya nyeri pada tumit yang terjadi pada pagi hari atau berdiri setelah duduk lama. Pada pemeriksaan akan didapatkan adanya nyeri pada tumit sisi dalam, tegangnya tendon achiles atau otot betis. Foto rontgen dapat dilakukan untuk menyingkirkan adanya kelainan pada tulang, ataupun patah tulang tumit. Sebagai penunjang, juga dapat dilakukan pemeriksaan USG untuk menyingkirkan kelainan-kelainan lain dan melihat ketebalan dari fascia plantaris dan adanya robekan lapisan fascia.

    Kebanyakan keluhan ini dapat berkurang dalam jangka waktu satu tahun dengan terapi konservatif. Terapi dapat dilakukan dengan melakukan istirahat pada kaki dan modifikasi aktivitas untuk memungkinkan terjadinya penyembuhan. Dapat juga diberikan kompres dingin atau es untuk meredakan gejala radang. Terkadang, diperlukan obat-obat antiinflamasi non steroid untuk membantu meredakan radang. Penderita juga perlu disiplin dalam melakukan peregangan dari plantar fascia dan tendon achiles. Yang dapat dilakukan lainnya adalah pengunaan insole, baik berupa silikon maupun plastik sehingga dapat memperbaiki biomekanik dari kaki dan mengurangi tekanan. Splint yang digunakan pada malam hari juga dapat membantu untuk mencegah posisi kaki yang terlalu kaku saat tidur dan dapat meningkatkan elastisitas dari otot.

    Pada kasus yang membutuhkan tindakan lebih invasif, dapat dilakukan penyuntikan, tetapi harus berhati-hati dengan adanya koplikasi seperti nyeri pada tempat suntikan, atrofi dari lemak, infeksi, cedera saraf, adan robeknya plantar fasia. Pada kasus yang tidak berhasil dengan tindakan konservatif, dapat ditambahkan dengan penggunaan extracorporeal shock wave therapy (ESWT) dengan menggunakan gelombang suara energi tinggi. Pilihan terakhir adalah dilakukan operasi bila keluhan tidak membaik selama 6-12 bulan, yang dapat dilakukan dengan teknik minimal invasif.

    Pulomas dr. Steesy Benedicta, M.Ked.Klin

    Artikel ini ditulis oleh dr. Steesy Benedicta, M. Ked. Klin, Sp. OT, dokter spesialis Orthopedik & Traumatologi OMNI Hospital Pulomas.

    Pendidikan & pelatihan dr. Steesy Benedicta, M. Ked. Klin, Sp. OT :

    • Pendidikan dokter umum di Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya, Jakarta (2003 - 2011)
    • Pendidikan Dokter Spesialis Ortopaedi & Traumatologi combined degree Magister Kedokteran Klinik, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia (2014 - 2020)
    • Fellowship Knee Surgery & Arthroscopy, Graduate School of Biomedical and Health Sciences, Hiroshima University, Hiroshima, Japan (25 Juni – 19 September 2019)

    Jadwal praktek :

    • Senin, Rabu & Jumat    : Pk. 08.00 - 14.00 WIB & Pk. 18.00 - 20.00 WIB
    • Selasa & Kamis            : Pk. 15.00 - 20.00 WIB
    • Sabtu                            : Pk. 09.00 - 15.00 WIB

Jadwal praktek nya :

Senin, Rabu & Jumat    : Pk. 08.00 - 14.00 WIB & Pk. 18.00 - 20.00 WIB

Selasa & Kamis             : Pk. 15.00 - 20.00 WIB

Sabtu                              : Pk. 09.00 - 15.00 WIB