Pulomas DOCTORS

dr. Tony Sukentro, Sp.B

Doctor

Pulomas dr. Tony Sukentro

Dokter Spesialis Bedah Umum

Pria kelahiran Jakarta pada 27 Juli 1974, bernama lengkap Tony Sukentro. Menempuh pendidikan S1 Dokter Umum Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Atmajaya dan S2 Dokter Spesialis Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

 

 

Training Experiences

  • Basic Laparoscopic Gading Pluit hospital, Jakarta
  • Advance laparoscopic RS Pertamina, Kalimantan Timur
  • Endoskopic thyroidectomy di Vietnam
  • Basic Laproscopy di Vietnam
  • Laparoscopic hernia di Chulalongkorn hospital , Thailand
  • Laparoscopic Hernia and update hernia Hongkong
  • Serifikasi Bedah umum untuk Laparoskopi di Jakarta

Specialities

  • S1 Dokter Umum Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Atmajaya
  • S2 Dokter Spesialis Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
  • FiLAC ( Fistula Ani Laser Closure ) untuk Fistula Perianal

    Pada Kesempatan ini saya ingin memberikan sedikit pengetahuan tentang apa itu Fistula Perianal, atau yang dikenal pula dengan nama Fistula Ani, Anal Fistula, Perianal Fistel, Fistel anus dll. Sedemikian banyak

    Read More

    Pada Kesempatan ini saya ingin memberikan sedikit pengetahuan tentang apa itu Fistula Perianal, atau yang dikenal pula dengan nama Fistula Ani, Anal Fistula, Perianal Fistel, Fistel anus dll. Sedemikian banyak nama yang disandangnya tidak lepas dengan reputasi penyakit ini yang terkenal SUSAH SEMBUH, bahkan banyak dokter bedah Frustasi dibuatnya. Nah bagaimana dengan pasien ??. Pasien bisa sampai 7 kali operasi dan sampai hilang harapan untuk sembuh.

    Tentu banyak pertanyaan kenapa fistula ani ini bandel sekali serta sulit sembuh ?. Jadi kita simak dahulu sedikit penjelasan mengenai Fistula Ani ini.

    Secara Anatomis Fistula ini terletak disekitar anus sehingga dikatakan Peri atau sekitar Anus nah Kelamin pria dan wanita itu termasuk dapat terlibat didalam Fistula ani ini bila muara fistel terletak padanya. Lalu Fistula sendiri secara definisi adalah saluran abnormal yang terletak pada tubuh manusia. Jadi Fistula ini bisa didalam perut di daerah dada atau di kulit perut punggung dll, ini tidak termasuk Fistula Perianal yang kita bahas disini.

    Jadi secara definisi jelas terdapat Saluran abnormal di sekitar Anus  atau Fistula Perianal. Setelah kita mengerti maka kita masuk ke pembagian Fistula Perianal ini yaitu :

    Klasifikasi yang dikenal dengan Klasifikasi PARK ini meliputi ;

    1. Fistula ekstrasphincteric dimulai dari rektum atau kolon sigmoid dan berlanjut ke bawah, melalui otot levator ani dan terbuka ke dalam kulit di sekitar anus . Perhatikan bahwa jenis ini tidak muncul dari garis dentate (tempat kelenjar anal berada). Penyebab jenis ini bisa berasal dari rektal, panggul atau supralevator, biasanya akibat penyakit Crohn atau proses inflamasi seperti abses apendiks atau divertikular.
    2. Fistula suprasphincteric dimulai antara otot sfingter internal dan eksternal, meluas ke atas dan melewati otot puborectalis , berlanjut ke bawah antara otot puborectalis dan levator ani, dan membuka satu inci atau lebih dari anus.
    3. Fistula transphincteric dimulai antara otot sfingter internal dan eksternal atau di belakang anus, melintasi otot sfingter eksternal dan membuka satu inci atau lebih dari anus.  Ini mungkin mengambil bentuk 'U' dan membentuk beberapa bukaan eksternal. Ini kadang-kadang disebut 'fistula tapal kuda'.
    4. Fistula intersphincteric dimulai antara otot sfingter internal dan eksternal, melewati otot sfingter internal, dan terbuka sangat dekat dengan anus.
    5. Fistula submukosa lewat secara dangkal di bawah submukosa dan tidak melewati salah satu otot sfingter.

    Mungkin pemahamannya cukup sulit ya, jadi simplenya ada fistula yg dangkal dan dalam makin dalam masuk ke usus makin sulit dan susah sembuh. Jadi Bagaimana kita tahu Fistula perianal yang dalam dan dangkal ? Tentu saja kita dapat menggunakan Fistulografi dengan kontras dan alat Rontgen biasa, tapi metode ini sudah kuno dan jadul jadi saat ini yang digunakan adalah MRI Fistulografi, nah kalau ini baru paten karena lokasi Fistula ani dapat ditentukan dengan jelas dan memudahkan kita memberikan penjelasan pada pasien serta keberhasilan operasi yang akan dilakukannya.

    Setelah kita paham tentang klasifikasi fistula dan MRI fistulografi maka anda harus paham juga tentang gejala serta bentuk dari Fistula Perianal ini sehingga anda dapat segera sadar dan berobat ke dokter secepatnya. Gejala Fistula perianal dapat berupa ;

    • Benjolan seperti bisul yang pecah dan tidak pernah kering
    • Maserasi kulit karena cairan ( kulit kemerahan )
    • Nanah, cairan serosa dan / atau (jarang) keluarnya tinja - bisa berdarah atau bernanah
    • Pruritus ani  atau gatal di anus
    • Tergantung pada keberadaan dan tingkat keparahan infeksi: berakibat rasa sakit, pembengkakan, demam, bau tak sedap, sekret kental yang membuat area basah dll.

    Lalu Apa yang harus kita waspadai  ? Sebagian besar fistula perianal berasal dari abses perianal atau bisul di anus. Karena dianggap sepele atau karena dianggap sudah sembuh atau karena operasi yang kurang bersih maka Fistula perianal ini tumbuh subur. Akibatnya membentuk muara di kulit sekitar anus yang selalu basah berbau dan gatal. Ini tanda2 klasik dari Fistula perianal.

    Permasalahannya sekarang kalau sudah terjangkit penyakit fistula ani ini apakah sudah tidak ada jalan keluar ?? Oh Tidak Sekarang sudah ada alat baru dari Jerman berupa Laser dan fiber nya yang lentur yang mampu mencari rongga - rongga fistula yang sulit. Prinsip dari laser ini adalah merusak dinding epitel dari lubang fistula dan merontokannya sehingga terjadi luka baru yang dapat menutup spontan. Laser ini hanya merusak dinding fistula ani bukan jaringan sekitarnya seperti otot anus, saraf dan pembuluh darah sehingga laser ini aman digunakan tanpa was - was otot anus robek dan tak dapat berfungsi lagi seperti yang sering terjadi pada operasi fistula perinal konvensional yang di robek / di gerowak. Pada FiLAC ini juga luka yang dibuatnya kecil sehingga penyembuhannya lebih cepat dibanding yang disobek, akibatnya perawatan lebih mudah tidak mengerikan dan recovery lebih cepat dibandingka  yang Konvensional.

    Problemnya cuma satu alat ini masih dipakai untuk satu orang satu fiber sehingga masih cukup mahal. Hal ini dilakukan karena takut akan penyakit menular atau bahkan COVID 19 bila memggunakan alat yang berulang - ulang dari satu pasien ke pasien lainnya. Tapi dengan semakin berkembangnya kemajuan dan ketenaran Laser untuk pengobatan Fistula Perianal maka sudah banyak Asuransi yang mengcover tindakan ini, hal ini cukup melegakan saya khususnya yang sudah bersusah payah membantu 50 lebih pasien yang ingin mencari kesembuhan untuk penyakit Fistula Ani yang dideritanya. Semoga dengan tulisan saya ini maka apa yang saya cita - citakan yaitu memerangi Fistula Perianal sampai ke akar-akarnya akan menjadi Kenyataan.

    Pulomas dr. Tony Sukentro

    Artikel ini ditulis oleh dr. Tony Sukentro, Sp.B, dokter spesialis bedah OMNI Hospital Pulomas

    Pendidikan & pelatihan dr. Tony Sukentro, Sp.B :

    • S1 Dokter Umum Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Atmajaya
    • S2 Dokter Spesialis Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

    Jadwal praktek :

    Senin – Sabtu        :  Pk. 09.00 - 16.00 WIB 

     

  • Kenapa Takut Operasi

    Kalau mendengar kata Operasi pasti yang terpikir lebih seram dari film Horor, Lalu mulai kasak kusuk mencari jalan agar tidak usah Operasi. Nah Kadang jalan yang ditempuh itu salah karena

    Read More

    Kalau mendengar kata Operasi pasti yang terpikir lebih seram dari film Horor, Lalu mulai kasak kusuk mencari jalan agar tidak usah Operasi. Nah Kadang jalan yang ditempuh itu salah karena malah memperberat atau bahkan menimbulkan komplikasi sampai kematian. Perlu diketahui bahwa Ketakutan itu bukan salah pasien saja tapi, ada andil nakes di Indonesia yang belum menjalankan apa yang di pelajari waktu pendidikan dengan baik.

    Tugas seorang dokter adalah :

    1. Promosi atau memberikan penerangan / edukasi tentang berbagai macam penyakit ke masyarakat agar pola pikir terbentuk dan keberanian timbul untuk mencari pengobatan medis ke dokter.
    2. Preventif yaitu sejalan dengan edukasi maka seorang dokter harus mampu mencegah suatu penyakit menjadi parah atau bahkan mencegah pasien terkena penyakit tersebut.
    3. KURATIF nah kenapa saya tekankan karena ini yang paling banyak dilakukan dokter di Indonesia yaitu mengobati dan memberikan obat atau langsung operasi.
    4. Rehabilitasi yaitu kemampuan seorang dokter dalam mengembalikan kondisi pasien ke keadaan semula atau mendekati kondisi awal.
    5. Monitoring atau memantau kondisi pasien,  nah ini adalah tugas dokter yang sering terabaikan, bayangkan kalau Bengkel mobil saja memantau mobil sehabis servis, kok tidak ada yang memantau pasien selama dia dirumah ?. Padahal teknologi medsos menunjang ke arah itu.

    Kembali ke Fokus operasi, bila semua point itu dijalankan maka pasien yang tadinya takut mau di operasi akan mempunyai keberanian karena dia tahu berada di tangan yang aman. Apalagi teknologi pembedahan sekarang sudah sangat maju dan benar-benas menekankan pada kenyamanan pasien pasca operasi. Contoh yang saya lakukan adalah mengedukasi pasien melalui Youtube, whatsapp, Instagram dll lalu mencegah kesakitan pasien lebih parah berikutnya memberikan terapi yang minimal infasiv seperti

    1. Laser dan Radio frekwensi untuk Wasir yang dilakukan tanpa membuang wasir tapi langsung mengempeskannya karena selaput diatas wasir berguna mengurangi nyeri saat bab pertama kali.
    2. Laparoskopi satu lubang dari pusar saja sehingga luka minimal, nyeri minimal dan kosmetiknya luka tak terlihat lagi
    3. Laser untuk Fistula ani yaitu teknologi terbaru untuk Fistula ani yang terkenal bandel sering kambuh dan makin lama makin susah operasinya. Dengan menggunakan teknologi laser maka resiko terpotongnya otot anus akan minim sehingga tetap bisa menahan BAB spt sedia kala.
    4. Terkahir teknologi operasi Hernia dengan Laparoskopi atau dengan Mesh dua lapis. Dengan teknologi ini maka pasien dimungkinkan tetap bekerja sesuai kondisi awal. Terapi ini cocok untuk pekerja berat, binaraga, atlit dll sehingga mereka tetap dapat berprestasi.

    Bila pasien sudah teredukasi jelas, melihat dengan nyata teknik operasi yang akan digunakan maka pasien akan mempunyai keberanian untuk menjalani operasi. Pasca operasi kita dapat memonitoring pasien dengan whatsapp group sehingga bisa saling sharing pengalamannya, tentu saja buat yg mau saja ya. Kalau keberatan maka akan di monitoring private, kapan saja pasien merasa khawatir dapat menghubungi dokternya. Jadi kalau dokter sudah menjalan kan point2 diatas maka saya rasa pasien tidak akan takut menjalankan terapi medis Khususnya operasi

    Kalau saya bisa Anda Pasti bisa. Pasien butuh teman dan keluarga so Be one for Them. 

    Pulomas dr. Tony Sukentro

    Artikel ditulis oleh dr. Tony Sukentro, Sp.B, Dokter Spesialis Bedah OMNI Hospital Pulomas

    Pendidikan & pelatihan dr. Tony Sukentro, Sp.B :

    • S1 Dokter Umum Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Atmajaya
    • S2 Dokter Spesialis Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

    Jadwal praktek :

    Senin – Sabtu        :  Pk. 09.00 - 16.00 WIB 

  • ONE HOLE Laparascopy Apendix - operasi usus buntu melalui pembedahan satu lubang saja

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kemajuan teknologi pembedahan dengan minimal invasif (pembedahan) semakin pesat. Salah satunya terobosan operasi usus buntu melalui pembedahan satu lubang saja atau disebut Single Incision Laparoscopic Surgery (SILS). “SILS

    Read More

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kemajuan teknologi pembedahan dengan minimal invasif (pembedahan) semakin pesat. Salah satunya terobosan operasi usus buntu melalui pembedahan satu lubang saja atau disebut Single Incision Laparoscopic Surgery (SILS). “SILS memberikan terobosan dengan menyempurnakan tingkat pembedahan minimal infasif pada kasus apendisitis,” kata spesialis laparoskopi RS Omni Pulomas, Jakarta, dr Tony Sukentro SpB.

    SILS, menurutnya, sebuah penyempurnaan tingkat operasi laparoskopi yang tadinya dengan tiga lubang masuk menjadi satu lubang saja. Awalnya, seorang pasien harus dibedah di bagian umbilikus (pusar) dan dua alat lagi harus dimasukkan di luar umbilikus. Namun, dengan SILS, semua berpusat di area pusar saja. Cara bedah satu lubang ini sebetulnya sudah lama diterapkan di Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Khusus di Indonesia, dr Tony mengklaim, RS Omni Pulomas menjadi salah satu penganutnya.

    Dokter bedah lulusan FK UI ini memaparkan minimal invasif tercapai, jika  dokter bisa seminimal mungkin membuat luka. Keuntungan lain dari cara bedah ini karena rasa nyerinya banyak berkurang, masa pemulihannya pun lebih cepat. “Yang tidak kalah penting kosmetiknya atau tampilan pada kulit terlihat sempurna karena tidak akan ada lagi bekas titik di luarumbilikus, terutama bagi para wanita tentu sangat berpengaruh,” kata dr Tony.

    Keuntungan SILS juga sangat dirasakan pasien yang berbakat keloid. Operasi ini menjadi bahan pertimbangan untuk menjadi pilihan utama.

    Salah seorang pasien, Yani Setiawan (29 tahun), memilih SILS untuk mengangkat usus buntunya (apendiktomi). Ia mengakui, bekas lukanya hanya nampak seperti bekas garis luka sepanjang 0,5 cm.

    Tony kembali menjelaskan, sebenarnya teknologi ini sudah sempat dipopulerkan, namun mengalami kemunduran karena tingkat kesulitan yang tinggi dan penambahan alat operasi yang cukup mahal. Harga alatnya sekitar 800 dolar AS atau kini sekitar Rp 9,6 juta.

    Karena itu, lanjutnya, dibuatlah terobosan dengan menggunakan alat khusus, sehingga tidak memerlukan tambahan biaya di RS Omni Pulomas. Sehingga operasi bisa dilakukan dengan biaya dan waktu operasi yang sama seperti operasi laparoskopi dengan tiga lubang.

    “Kalau bisa dilakukan operasi dengan satu lubang dengan benefit seperti tadi kenapa harus dilakukan dengan tiga lubang sayatan untuk operasi apendiks?” katanya.

Jadwal Praktek Dokter

Senin – Sabtu        :  09.00 - 16.00 WIB