Pulomas DOCTORS

'dr. Caroline Tirtajasa', Sp.OG(K)

Doctor

Pulomas 'dr. Caroline Tirtajasa'

Obstetrics & Gynaecologyst
Consultant Infertility & Reproductive Hormones Laparoscopy Surgeon

Dr. Caroline Tirtajasa, Sp.OG (K) adalah Dokter Spesialis Kebidanan & Kandungan Konsultan, sub spesialis Fertility & Hormon Reproduksi. Dokter kelahiran Jakarta, 22 Desember 1970 ini merupakan lulusan terbaik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Universitas Schleswig - Holstein, Kiel, Jerman.

Saat ini Dr. Caroline Tirtajasa, Sp.OG (K) mendedikasikan dirinya sebagai Konsultan Fertility Center dan Laparoscopy Center di OMNI Hospital Pulomas. Bidang keahlian yang ditekuni diantaranya Bedah Kebidanan & Kandungan, Pertolongan persalinan (persalinan normal, SC, SC dengan membuang lemak perut / lipectomy), Bedah Laparoskopi (Minimal Invasive Surgery) untuk tumor kandungan (mioma, kista, hamil di luar kandungan), Penanganan masalah fertility / ketidaksuburan, termasuk melakukan tindakan Inseminasi & Bayi Tabung (In Vitro Fertilization), dan Penanganan masalah hormon reproduksi, termasuk ketidakteraturan haid atau perdarahan pada usia remaja, pra menopause dan menopause.

 | Inseminasi Pilih Gender/Sex

 | Laparoskopi untuk yang takut operasi

Educational Background

  • S1 : Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Jakarta
  • S2  : Dokter Spesialis Kebidanan & Kandungan, FKUI - RSCM Jakarta (Lulus dengan predikat Cum Laude - angkatan 98 dengan predikat lulusan terbaik angkatan 2000)
  • S3 (klinik) : Dokter Kandungan, Subspesialis Fertility & Hormon Reproduksi, FKUI- RSCM, Jakarta
  • Diploma dalam Bedah Laparoskopi (minimal invasive surgery), Universitas Schleswig - Holstein, Kiel, Jerman.

Workshop & Training

  • Training course dalam Advanced Endoscopy Ginekologi / Laparoskopi, Universitas Schleswig Holstern, Kiel. Jerman
  • Training Laparoskopi tahap lanjut untuk Tumor Kandungan, Universitas Glessen, Jerman
  • Training dalam prosedur Ovum Pick Up & Transfe Embrio untuk program Bayi Tabung / IVF, Singapore & Vietnam 

Bidang Keahlian

  • Bedah Kebidanan & Kandungan
  • Pertolongan Persalinan (Persalinan normal, SC, SC dengan membuang lemak perut / lipectomy)
  • Bedah Laparoskopi (minimal invasive) untuk tumor kandungan (mioma, kista, hamil diluar kandungan)
  • Penanganan masalah fertility / ketidaksurburan, termasuk melakukan tindakan Inseminasi & Bayi Tabung (In Vitro Fertilization)
  • Penanganan masalah hormone reproduksi, termasuk ketidakteraturan haid atau perdarahan pada usia remaja, pra menopause dan menopause

Work Experience

  • KSMFKebidanan & Kandungan, RS Secapa POLRI, Sukabumi.
  • Spesialis Kebidanan & Kandungan, RS OMNI Pulomas.
  • Konsultan Fertility & Hormon, RS OMNI Pulomas
  • Kepala Fertility Centre & Laparoscopy Centre, RS OMNI Pulomas

Organization Experience

  • IDI (Ikatan Dokter Indonesia).
  • POGI (Persatuan Obstetri Ginekologi Indonesia)
  • IGES (Indonesian Gynaecological Endoscopy Society)
  • HIFERI (Himpunan Ahli Fertility Indonesia)
  • Dr. Caroline Tirtajasa dan Masalah Kesuburan Kaum Hawa

    Masalah kesuburan termasuk pelik untuk beberapa wanita. Demi mendapatkan sang buah hati, perempuan kerap berjuang menyuburkan rahimnya. Dan Dr. Caroline Tirtajasa, Sp.OG (K) selalu sabar dan setia menangani masalah reproduksi

    Read More

    Masalah kesuburan termasuk pelik untuk beberapa wanita. Demi mendapatkan sang buah hati, perempuan kerap berjuang menyuburkan rahimnya. Dan Dr. Caroline Tirtajasa, Sp.OG (K) selalu sabar dan setia menangani masalah reproduksi kaum hawa ini.

    Dr. Caroline Tirtajasa, Sp.OG (K) , 43 tahun,merupakan Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan, Sub Spesialis Fertility dan Hormon Reproduksi serta juga seorang ahli Bedah Laparoskopi (Bedah Minimal Invasif).

    Kemampuannya di bidang ini membuatnya kerap berhubungan dengan masalah infertilitas kaum hawa. Buatnya hal yang paling membahagiakan adalah ketika pasiennya berhasil hamil.

    Dr. Caroline berasal dari keluarga sederhana dan senang mempelajari tentang penyakit. Didorong oleh ketertarikan mempelajari berbagai macam penyakit dan keinginan kuat untuk dapat menyembuhkan orang sakit maka sedari kecil ia sudah bercita-cita ingin menjadi dokter yg dapat mengabdikan ilmunya untuk orang-orang yang membutuhkan.

    Prestasinya dalam bidang akademik sangat cemerlang. Ia berhasil mendapat peringkat teratas mulai dari SD hingga SMA. Tidak hanya itu, bahkan ketika lulus S1 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ia berhasil meraih predikat Cum Laude.

    Setelah lulus, ia mengambil S2 Spesialis Kebidanan & Kandungan di FKUI - RSCM Jakarta dan kembali lulus dengan predikat Lulusan Terbaik di angkatannya.. Dan ketika lulus dari S3 Subspesialis Fertility & Hormon Reproduksi FKUI- RSCM Jakarta pada Januari 2011, ia berpredikat sebagai Konsultan Fertility perempuan pertama di Jakarta dari FKUI-RSCM. Ia juga sempat mengenyam pendidikan diploma dalam Bedah Laparoskopi (minimal invasive surgery) di Universitas Schleswig - Holstein, Kiel, Jerman. Lagi-lagi, ia lulus dengan predikat terbaik.

    Ada alasan kenapa Dokter yang ramah ini memilih bidang Fertility & Endokrinologi Reproduksi. "Saya suka dengan ilmunya. Lagipula Konsultan Fertility wanita saat itu belum ada di Jakarta".

    Dr. Caroline yang melakukan Inseminasi dan menangani kelahiran bayi kembar tiga hasil program Inseminasi di RS Omni Pulomas, ternyata juga memiliki anak kembar yang berbeda jenis kelamin yang disebabkan karena faktor keturunan. Kedua anaknya kini hampir menginjak usia 7 tahun.

    "Adik kandung ibu saya kembar identik," papar istri dari Dr. Martasono ini ketika ditemui Liputan6.com seperti ditulis Rabu (27/3/2013).

    Dokter yang hobi main piano, baca buku, traveling dan nonton film inspiratif ini mengungkapkan rahasianya untuk bisa membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga meski sibuk.

    "Saya hanya praktik full di satu rumah sakit saja, Omni Hospital Pulomas. Rumah saya di seberangnya Rumah Sakit. Jadi pagi sebelum berangkat, saya masih sempat antar anak-anak ke sekolah. Saat siang, anak-anak pulang sekolah, saya juga sudah pulang. Lalu, saya praktik lagi sorenya sampai jam tujuh malam. Nah, saya masih bisa mengajari dan mengawasi anak-anak belajar," tambahnya.

    "Jadi, pasien-pasien saya bisa terurus dengan baik, begitu pula keluarga," ujar Dokter yang berprinsip selalu melakukan yang terbaik dalam setiap hal.

    Selama menjadi Dokter, hal yang paling membahagiakan adalah ketika pasiennya berhasil hamil dan melahirkan bayi sehat. Terutama pada kasus bayi kembar tiga yang lahir 19 Maret 2013. Dan yang membuatnya sedih kalau usaha kehamilan yang dilakukan tidak berhasil.

    Tidak jarang Dokter yang lahir pada 22 Desember ini menghadapi kesulitan selama menjalani profesinya itu, meski pada akhirnya bisa teratasi.

    "Banyak kesulitan yang dihadapi, terutama untuk pasien usia 40 tahun ke atas yang menginginkan kehamilan. Karena pada umur di atas 40-an tahun, kesuburan wanita sudah mulai menurun dan persentase keberhasilan program hamil juga kecil. Tapi, tidak menutup kemungkinan pada usia itu ada juga yang berhasil hamil," tutupnya.

  • Inilah Bukti Dokter Indonesia Tak Kalah Hebat Dengan Singapura

    Memiliki buah hati merupakan idaman setiap pasangan yang baru menikah. Tidak sedikit pasangan yang rela merogoh kocek lebih dalam demi memiliki keturunan.

    Seperti Yosephiene yang telah melakukan program bayi tabung sebanyak

    Read More

    Memiliki buah hati merupakan idaman setiap pasangan yang baru menikah. Tidak sedikit pasangan yang rela merogoh kocek lebih dalam demi memiliki keturunan.

    Seperti Yosephiene yang telah melakukan program bayi tabung sebanyak 4 kali dan inseminasi 6 kali namun belum mendapatkan hasil.

    "Pasien saya yang ini sudah ikut program bayi tabung 4 kali, 2 kali di rumah sakit swasta nomer satu di Singapura namun belum berhasil, 6 kali inseminasi pun belum juga berhasil," kata Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan Subspesialis Fertility dan Hormon Reproduksi Ahli Bedah Laparoskopi, Kiel, Jerman, Dr. Caroline Tirtajasa, Sp.OG(K).

    Meski begitu Yosephiene tidak merasa putus asa. Untuk kelima kalinya, wanita usia 38 tahun ini ini memilih mengikuti program bayi tabung yang kelima. Kali ini di Rumah Sakit Omni Hospital Pulomas.

    "Kebetulan dia (Yosephiene) baca profil saya dan datang ke sini untuk program bayi tabung yang ke lima kalinya. Puji Tuhan sukses," kata dr. Caroline saat ditemui Liputan6.com di ruang kerjanya, Kamis (16/1/2014).

    Menurut dr. Caroline, awalnya keyakinan untuk berhasil hanya 50 persen namun dirinya tetap mengupayakan semaksimal mungkin.

    "Saya cuma bilang di awal dia datang, kita berupaya sebaik mungkin untuk hasilnya. Saat itu yakin ya 50 persen berhasil 50 lagi sepertinya sulit, namun ternyata Puji Tuhan bayinya normal," kata dr. Caroline.

    Sebelum menjalankan terapi program bayi tabung, Yosephiene menjalani pemeriksaan kesehatan secara keseluruhan.

    Akhirnya diketahui kenapa program sebelumnya tidak berhasil. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Yosephine punya masalah perihal kekentalan darah.

    "Pasien ini mengalami kekentalan darah dan itu sudah bawaan dia. Kondisi ini yang menghambat proses pembentukan plasentasi dan implantasi sehingga program sebelumnya gagal," kata Caroline.

    Menurut dr. Caroline sebenarnya kualitas dokter di Indonesia tidak kalah dengan luar  negeri.

    "Jangan apa-apa Singapura apa- apa ke luar negeri. Kualitas dokter di Indonesia itu tidak kalah kok. Terbukti beberapa pasien yang menjalani bayi tabung di luar negeri tidak berhasil. Dan berhasilnya di sini," kata dr. Caroline.

    Sebelum program bayi tabung dijalani, dr. Caroline mempelajari riwayat program bayi tabung yang telah dijalankan Yosephiene sebelumnya.

    "Waktu itu mulai program April 2013 kemudian bayi berhasil dilahirkan pada januari 2014 usia kandungan 35 minggu. Sebelumnya saya mempelajari riwayat sebelumnya, obat yang telah dikonsumsi dulu ya diganti," katanya.

    Berbekal pengetahuan dan keyakinannya pada Tuhan dr. Caroline pun berhasil melakukan program bayi tabung pada Yosephiene.

    "Puji Tuhan saya yakin, lewat pengetahuan yang saya miliki. Segala upaya kami lakukan dan selama 35 minggu Victoria pun berhasil dilahirkan dengan berat 2.460 kg," ujar dr. Caroline.

    Meski begitu, upaya yang dilakukan Caroline bukannya tanpa kendala.

    "Waktu itu air ketuban si ibu sudah diambang batas kritis, dan itu baru usia kandungan 8 bulan belum bisa untuk dilahirkan. Namun kami terus berupaya memberikan obat pematangan paru untuk bayi," kata dr. Caroline.

    Caroline berupaya agar bayi tetap dilahirkan dengan kondisi normal. Yoshepiene pun mesti menjalani perawatan intensif.

    "Waktu itu Yoshepiene rutin  menjalani USG 3-7 hari sekali. Kami memonitor bayi  dan mewaspadai air ketuban yang semakin berkurang. Akhirnya di usia 35 minggu kami pun bergegas untuk melahirkan bayi, karena 85 persen paru sudab terbilang baik. Bayi pun dilahirkan secara cesar," kata dr. Caroline.

    Kelahiram Victoria pun dianggap dr. Caroline sebagai karya Tuhan. Atas kehendakNya, Yosephiene berhasil memiliki keturunan setelah menjalani 10 kali program bantuan reproduksi.

    "Karya Tuhan dan atas usaha keras, Victoria lahir di program bayi tabung ke-5. Setelah menjalani 10 kali program bantuan reproduksi bayi tabung dan inseminasi," kata dr. Caroline.

  • Inilah Mengapa ada Wanita yang mudah Gemuk Dan Sulit Hamil

    Ada satu kondisi yang menyebabkan seorang wanita gampang mengalami kegemukan dan sulit hamil, yakni bila Polycystic Ovary (PCO) atau ketidakseimbangan hormon menyerangnya.

    Demikian dikatakan Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan

    Read More

    Ada satu kondisi yang menyebabkan seorang wanita gampang mengalami kegemukan dan sulit hamil, yakni bila Polycystic Ovary (PCO) atau ketidakseimbangan hormon menyerangnya.

    Demikian dikatakan Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan Subspesialis Fertility dan Hormon Reproduksi Ahli Bedah Laparoskopi, Kiel, Jerman, Dr. Caroline Tirtajasa, Sp.OG(K). Menurut dr. Caroline, dampak jangka panjang PCO adalah infertilitas atau sulit hamil.

    Selain itu juga berisiko sindroma metabolik seperti hipertensi, diabetes, hiperkolestrolemia, hipertrigliseridemia, dan Obesitas. PCO atau yang dikenal dengan Ovarium Polikistik merupakan kondisi ketidakseimbangan hormonal yang menyebabkan sel telur tetap kecil, tidak ada yang berkembang menjadi sel telur besar dan matang agar bisa dibuahi sel sperma. "Dengan kata lain, peristiwa ovulasi atau pecahnya sel telur yang matang tidak terjadi, sehingga tidak mengherankan penderita PCO datang ke seorang ahli fertilitas dengan keluhan sulit hamil dan mens yang tidak teratur. Ketidakseimbangan hormon yang sering terjadi pada penderita PCO adalah peninggian hormon LH dan testosteron, resistensi terhadap kerja hormon insulin dan hormon leptin," kata Dr. Caroline, Jumat (17/1/2014). Sama seperti yang ditulis Dr. Caroline dalam artikel pribadinya yang diterima tim Health Liputan6.com, Jumat (17/1/2014), peninggian hormon LH dan testosteron menyebabkan beberapa penderita PCO mempunyai tanda-tanda hiperandrogenik seperti tumbuhnya bulu halus di atas bibir, dada, kaki, tangan, perut atau sekitar dagu, punggung dan payudara, adanya jerawat berlebih di wajah maupun dada dan punggung, kulit wajah dan kepala yang berminyak. "Dua pertiga pasien PCO mempunyai indeks massa tubuh berlebih atau gemuk.

    Lemak yang berlebih ini memproduksi hormon Leptin. Pada orang normal, adanya hormon Leptin yang berlebih akan mencegah seseorang makan berlebih saat kondisi kecukupan kalori sudah tercapai. Lain halnya dengan PCO yang menyebabkan kondisi resistensi leptin yaitu kondisi dimana leptin tidak dapat bekerja sehingga pasien PCO cenderung makan terus meski kecukupan kalori telah tercapai," katanya. Dr. Caroline menambahkan dengan kata lain kondisi resistensi leptin ini menyebabkan ambang rasa kenyang yang tinggi atau sulit merasa kenyang. Hal ini juga yang menyebabkan pasien PCO jatuh dalam obesitas atau kegemukan dan diabetes. Interaksi antara hormon reproduksi dengan insulin dan leptin menyebabkan ketidakseimbangan hormonal yang kompleks yang harus diterapi satu demi satu agar kondisi hormon yang optimal dapat tercapai sehingga sel telur mau berkembang dan pecah (ovulasi). "Resistensi leptin inilah yang bertentangan dengan hormon reproduksi sehingga para penderita PCO mengalami sulit hamil. Terapi hormon membutuhkan waktu berbulan-bulan, kadang bertahun-tahun, tergantung seberapa berat kondisi ketidakseimbangan hormonal yang terjadi, yang tentunya berbeda-beda pada setiap pasien PCO," kata Dr. Caroline. Menurutnya, pasien PCO umumnya datang ke dokter kandungan (ahli fertilitas) dengan keluhan haid tak teratur atau sudah lama menikah tapi tidak kunjung hamil.

    Diagnosis PCO ditentukan berdasarkan ditemukannya dua dari tiga gejala klinis yaitu mens yang tidak teratur, tanda-tanda hiperandrogen, dan gambaran indung telur yang polikistik pada pemeriksaan USG. "Setelah ditemukannya gejala klinis kemudian dilakukan pemeriksaan profil hormon untuk menentukan apakah ada resistensi Insulin, peninggian hormon LH atau kelainan hormon reproduksi yang lainnya. Penderita PCO meskipun tidak ingin hamil tetap harus diterapi,"kata Dr. Caroline. Respons pengobatan yang baik akan terlihat dari mulai teraturnya siklus haid dan membesarnya sel telur jika dirangsang. "Jika tetap tidak didapatkan respon yang diinginkan maka terapi selanjutnya dapat ditingkatkan dengan melakukan LOD (Laparoscopy Ovarian Drilling) atau dengan menyuntikkan FSH (Follicle Stimulating Hormone) rekombinan," katanya. (Mia/Mel/*)

  • Masalah Kesuburan Kaum Hawa

    Liputan6.com, Masalah kesuburan termasuk pelik untuk beberapa wanita. Demi mendapatkan sang buah hati, perempuan kerap berjuang menyuburkan rahimnya. Dan Dr. Caroline Tirtajasa, Sp.OG (K) selalu sabar dan setia menangani masalah

    Read More

    Liputan6.com, Masalah kesuburan termasuk pelik untuk beberapa wanita. Demi mendapatkan sang buah hati, perempuan kerap berjuang menyuburkan rahimnya. Dan Dr. Caroline Tirtajasa, Sp.OG (K) selalu sabar dan setia menangani masalah reproduksi kaum hawa ini.

    Dr. Caroline Tirtajasa, Sp.OG (K) , merupakan Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan, Sub Spesialis Fertility dan Hormon Reproduksi serta juga seorang ahli Bedah Laparoskopi (Bedah Minimal Invasif) yang berpraktek di OMNi Hospital Pulomas.

    Kemampuannya di bidang ini membuatnya kerap berhubungan dengan masalah infertilitas kaum hawa. Buatnya hal yang paling membahagiakan adalah ketika pasiennya berhasil hamil.

    Dr. Caroline berasal dari keluarga sederhana dan senang mempelajari tentang penyakit. Didorong oleh ketertarikan mempelajari berbagai macam penyakit dan keinginan kuat untuk dapat menyembuhkan orang sakit maka sedari kecil ia sudah bercita-cita ingin menjadi dokter yg dapat mengabdikan ilmunya untuk orang-orang yang membutuhkan.

    Prestasinya dalam bidang akademik sangat cemerlang. Ia berhasil mendapat peringkat teratas mulai dari SD hingga SMA. Tidak hanya itu, bahkan ketika lulus S1 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ia berhasil meraih predikat Cum Laude.

    Setelah lulus, ia mengambil S2 Spesialis Kebidanan & Kandungan di FKUI - RSCM Jakarta dan kembali lulus dengan predikat Lulusan Terbaik di angkatannya.. Dan ketika lulus dari S3 Subspesialis Fertility & Hormon Reproduksi FKUI- RSCM Jakarta pada Januari 2011, ia berpredikat sebagai Konsultan Fertility perempuan pertama di Jakarta dari FKUI-RSCM. Ia juga sempat mengenyam pendidikan diploma dalam Bedah Laparoskopi (minimal invasive surgery) di Universitas Schleswig - Holstein, Kiel, Jerman. Lagi-lagi, ia lulus dengan predikat terbaik.

    Ada alasan kenapa Dokter yang ramah ini memilih bidang Fertility & Endokrinologi Reproduksi. "Saya suka dengan ilmunya. Lagipula Konsultan Fertility wanita saat itu belum ada di Jakarta".

    Dr. Caroline yang melakukan Inseminasi dan menangani kelahiran bayi kembar tiga hasil program Inseminasi di RS Omni Pulomas, ternyata juga memiliki anak kembar yang berbeda jenis kelamin yang disebabkan karena faktor keturunan. Kedua anaknya kini hampir menginjak usia 7 tahun.

    "Adik kandung ibu saya kembar identik," papar istri dari Dr. Martasono ini ketika ditemui Liputan6.com seperti ditulis Rabu (27/3/2013).

    Dokter yang hobi main piano, baca buku, traveling dan nonton film inspiratif ini mengungkapkan rahasianya untuk bisa membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga meski sibuk.

    "Saya hanya praktik full di satu rumah sakit saja, OMNI Hospital Pulomas. Rumah saya di seberangnya Rumah Sakit. Jadi pagi sebelum berangkat, saya masih sempat antar anak-anak ke sekolah. Saat siang, anak-anak pulang sekolah, saya juga sudah pulang. Lalu, saya praktik lagi sorenya sampai jam tujuh malam. Nah, saya masih bisa mengajari dan mengawasi anak-anak belajar," tambahnya.

    "Jadi, pasien-pasien saya bisa terurus dengan baik, begitu pula keluarga," ujar Dokter yang berprinsip selalu melakukan yang terbaik dalam setiap hal.

    Selama menjadi Dokter, hal yang paling membahagiakan adalah ketika pasiennya berhasil hamil dan melahirkan bayi sehat. Terutama pada kasus bayi kembar tiga yang lahir 19 Maret 2013. Dan yang membuatnya sedih kalau usaha kehamilan yang dilakukan tidak berhasil.

    Tidak jarang Dokter yang lahir pada 22 Desember ini menghadapi kesulitan selama menjalani profesinya itu, meski pada akhirnya bisa teratasi.

    "Banyak kesulitan yang dihadapi, terutama untuk pasien usia 40 tahun ke atas yang menginginkan kehamilan. Karena pada umur di atas 40-an tahun, kesuburan wanita sudah mulai menurun dan persentase keberhasilan program hamil juga kecil. Tapi, tidak menutup kemungkinan pada usia itu ada juga yang berhasil hamil," tutupnya.

    Link: https://www.youtube.com/watch?v=Prkab70xOYo

  • Mengapa Endometriosisi Membuat Sulit Hamil?

    MENGAPA ENDOMETRIOSIS MEMBUAT SULIT HAMIL? Endometriosis adalah penyakit inflamasi dimana ditemukan adanya jaringan endometrium atau dinding dalam rahim di tempat yang tidak seharusnya, bisa di indung telur, otot rahim, selaput

    Read More

    MENGAPA ENDOMETRIOSIS MEMBUAT SULIT HAMIL? Endometriosis adalah penyakit inflamasi dimana ditemukan adanya jaringan endometrium atau dinding dalam rahim di tempat yang tidak seharusnya, bisa di indung telur, otot rahim, selaput dinding panggul dan organ lainnya. Penyakit ini ditandai dengan nyeri saat haid ataupun nyeri saat berhubungan. Gejala lain yang dapat terjadi adalah mens yang banyak, nyeri panggul menahun, nyeri bokong, keluar darah di kotoran atau air seni saat haid dan nyeri menjalar dari perut bawah ke atas atau belakang. Endometriosis dapat dibagi menjadi stadium I-II dan stadium III-IV dimana pada stadium I-II, endometriosis ditemukan hanya berupa bercak-bercak endometriosis di dinding perut atau panggul sedangkan pada stadium III-IV endometriosis ditemukan berupa kista endometriosis di ovarium atau adenomiosis di otot rahim. Endometriosis stadium I-II tidak dapat dilihat dengan USG transrektal atau transvaginal bahkan MRI. Diagnosis endometriosis stadium I-II hanya dapat dilakukan lewat prosedur laparoskopi dimana kamera dimasukkan melalui lubang 1 cm di perut untuk dapat melihat bercak-bercak endometriosis di dinding perut atau panggul. Jadi bagi pasien dengan gejala nyeri haid hebat tetapi tidak ditemukan kelainan lewat pemeriksaan USG, belum tentu tidak ada endometriosis.

    Endometriosis secara patologi sel-selnya masih jinak walaupun sifat endometriosis seperti kanker dimana penyakit ini menyebar dan berinfiltrasi ke dalam membuat susukan ke dalam dinding perut dan panggul serta organ lain. Endometriosis yang tumbuh di indung telur menjadi kista endometriosis atau kista coklat. Endometriosis yang tumbuh di otot rahim menjadi Adenomiosis. Adenomiosis ini sering diduga mioma atau fibroid. Secara klinis keduanya berupa benjolan atau tumor yang tumbuh di otot rahim. Tetapi tampilan USG dan sifatnya jauh berbeda. Mioma berbatas tegas terpisah dari otot rahim sekitarnya sehingga operasi pengangkatan mioma dapat dipastikan bersih sedangkan Adenomiosis berbatas tidak tegas karena sel-sel adenomiosis berinfiltrasi ke dalam sel-sel otot rahim normal sehingga pengangkatan adenomiosis tidak pernah bisa bersih sama sekali dan berakibat pada angka kekambuhan yang tinggi sekali. Karena itu operasi definitif untuk adenomiosis adalah angkat beserta rahimnya untuk memastikan tidak akan kambuh lagi.

    Dilemma dihadapi pada pasien adenomiosis yang ingin hamil, tentunya operasi terpaksa dilakukan dengan hanya mengangkat adenomiosisnya saja walaupun dengan risiko akan kambuh lagi dalam waktu sekitar 2 tahun. Karena itu setelah operasi pasien yang ingin hamil harus segera hamil, berlomba dengan kambuhnya penyakit. Kehamilan tidak dapat ditunggu tetapi harus diupayakan dengan berbagai macam program kehamilan. Mengapa endometriosis membuat seseorang sulit hamil? Ada beberapa hal yang menyebabkan hal ini antara lain :
     

    1.Endometriosis menurunkan kualitas sel telur. Salah satu teori endometriosis adalah penumpukan radikal bebas dan zalir peritoneal yang toksik terhadap embrio dan sel telur. Radikal bebas yang dipicu oleh paparan terhadap polutan lingkungan ini sangat berpengaruh terhadap kualitas sel telur sehingga berdampak pada sulitnya pembuahan atau kualitas kehamilan yang tidak baik (Blighted Ovum atau kehamilan yang tidak berkembang).

    2.Endometriosis menimbulkan perubahan anatomi normal organ reproduksi. Dasar dari penyakit endometriosis adalah inflamasi atau peradangan. Dari proses inflamasi ini akan dihasilkan mediator-mediator inflamasi yang akan menimbulkan perlengketan organ reproduksi. Bisa berupa tersumbatnya saluran telur, lengketnya indung telur dengan dinding belakang rahim serta usus-usus sehingga menyebabkan terhalangnya sel telur bertemu dengan sperma untuk pembuahan di dalam saluran telur.

    3.Endometriosis menurunkan cadangan sel telur (Ovarian Reserve). Bukan hanya kualitas tetapi kuantitas sel telur juga menurun dengan endometriosis apalagi dengan munculnya kista endometriosis di indung telur karena dengan makin membesarnya kista maka sel telur sehat akan makin terdesak. Indikasi operasi adalah jika besar kista sudah di atas 4 cm. Tindakan operasi pengangkatan kista dapat dilakukan dengan prinsip minimal invasive atau laparoskopi yaitu dengan membuat lubang kecil (0,5-1 cm) di perut, rawat hanya 1 hari dan dapat kembali ke aktivitas normal keesokan harinya. Pengangkatan kista ini jangan menunggu sampai kista besar sekali karena jika kista sudah terlanjur besar sekali maka hanya sedikit jaringan indung telur sehat yang dapat ditinggalkan yang berarti hanya sedikit sel telur sehat yang tersisa untuk dapat dibuahi sperma sehingga akan mempersulit terjadinya kehamilan. Kista endometriosis tanpa terapi tidak akan hilang sendiri tetapi akan membesar dengan makin progresifnya penyakit.

    4.Endometriosis adalah penyakit sepanjang usia reproduksi dimana penyakit ini akan terus berkembang selama pasien masih haid dan masih dalam usia reproduksi, belum menopause. Penyakit ini akan berhenti sementara jika pasien berhenti haid (hamil atau menopause). Terlepas dari terapi yang dilakukan baik operasi maupun obat-obatan, endometriosis akan selalu kambuh karena itu kehamilan harus diupayakan, tidak menunggu, berlomba dengan kambuhnya penyakit. Harus disadari angka kekambuhan yang tinggi pada semua penyakit endometriosis berhubungan dengan sifat infiltrasi dan menyebarnya sehingga terapi apapun tidak ada yang bisa mengeradikasi bersih sel-sel endometriosis ini, apalagi jika paparan polutan lingkungan (bahan kimiawi, cemaran plastik, asap rokok dan kendaraan, zat pengawet dan pewarna, junk food dan daging olahan termasuk daging yang disuntik hormon) tidak dihindarkan.

     

    Terapi endometriosis dibagi dalam 2 golongan yaitu terapi operatif dan obat-obatan. Terapi apapun yang diambil tidak bisa mencegah kekambuhan penyakit hanya menunda atau memperpanjang waktu kambuhnya kembali. Jenis terapi yang diambil bergantung pada keinginan fertilitas pasien (ingin hamil atau tidak),

    usia pasien dan derajat keparahan penyakit. Bagi pasien yang masih ingin hamil maka terapi konservatif dengan mempertahankan rahim dan indung telur yang sehat menjadi pilihan. Prosedur pengangkatan kista dan lesi endometriosis lainnya dengan laparoskopi menjadi prosedur terbaik karena lesi endometriosis dapat divisualisasi dengan lebih jelas dengan prosedur ini sehingga pengangkatan lesi endometriosis dapat lebih bersih dilakukan dibandingkan dengan prosedur operasi biasa. Bagi pasien yang tidak ingin hamil lagi maka terapi radikal menjadi pilihan untuk mencegah angka kekambuhan yang tinggi. Bergantung pada lokasi lesi endometriosis maka dapat dilakukan operasi pengangkatan rahim (pada kasus adenomiosis) atau pengangkatan indung telur (pada kasus kista endometriosis yang berulang). Terapi obat-obatan hanya bersifat sementara dan sangat terbatas karena mempunyai beberapa efek samping. Terapi obat-obatan membuat kondisi “hamil buatan” dengan pemberian obat-obat hormonal seperti pil KB dan hormon progesteron. Atau membuat kondisi “menopause buatan” dengan pemberian obat penekan hormon yang dibatasi maksimal hanya 6 bulan. Begitu obat distop dan haid normal kembali maka perjalanan endometriosis juga berjalan kembali. Kesimpulan: Endometriosis merupakan penyakit inflamasi yang menurunkan kualitas dan kuantitas sel telur serta membuat perubahan anatomi normal organ reproduksi sehingga mempersulit kehamilan.

     

    Endometriosis senantiasa berkembang dan kambuh terlepas dari terapi apapun yang diberikan karena itu bagi pasien yang ingin hamil maka kehamilan harus diupayakan dengan program hamil, tidak menunggu karena berlomba dengan kambuhnya penyakit. Kombinasi terapi operatif dengan laparoskopi dan obat-obatan penekan hormon menjadi pilihan terbaik terapi saat ini dilanjutkan segera dengan program hamil. Tulisan ini dibuat oleh Dr. Caroline Tirtajasa SpOG (K) dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan konsultan subspesialis Fertility dan Hormon Reproduksi untuk memberi pengetahuan tentang endometriosis kepada masyarakat awam.
     

  • Polycystic Ovary Syndrome (PCO'S)

    PCO atau yang dikenal dengan Ovarium Polikistik adalah suatu kondisi ketidakseimbangan hormonal yang menyebabkan sel telur tetap kecil, tidak ada yg berkembang menjadi sel telur besar dan matang untuk bisa

    Read More

    PCO atau yang dikenal dengan Ovarium Polikistik adalah suatu kondisi ketidakseimbangan hormonal yang menyebabkan sel telur tetap kecil, tidak ada yg berkembang menjadi sel telur besar dan matang untuk bisa dibuahi oleh sel sperma.

     

    peristiwa Ovulasi atau pecahnya sel telur yang matang tidak terjadi, sehingga tidak mengherankan penderita PCO datang ke seorang ahli Fertility dengan keluhan sulit hamil dan mens yang tidak teratur. Ketidakseimbangan hormonal yang terjadi menyangkut interaksi berbagai hormon antara lain hormon-hormon reproduksi seperti LH, FSH, Prolactin, Estrogen dan Testosteron, juga menyangkut hormon Insulin dan Leptin (hormon yang dihasilkan oleh lemak). Kondisi ini selain menyebabkan sel telur yang tidak dapat berkembang juga menurunkan kualitas sel telur. Ketidakseimbangan hormon yang sering terjadi pada penderita PCO adalah peninggian hormon LH dan testosteron, resistensi terhadap kerja hormon Insulin dan resistensi terhadap hormon Leptin. Hormon Insulin bekerja dengan menjaga agar kadar gula darah tidak terlalu tinggi dengan memasukkan gula darah ke dalam sel.

     

    Pada penderita PCO sering didapat tingginya kadar hormon insulin meskipun kadar gula darah masih normal, dibuktikan dengan rasio gula darah puasa dengan insulin puasa yang kurang dari 10. Kondisi ini disebut dengan resistensi Insulin dimana diperlukan Insulin yang lebih tinggi dari yang seharusnya untuk menurunkan kadar gula darah atau menjaga agar gula darah tetap normal. Kondisi resistensi Insulin yang berkepanjangan akan menyebabkan seseorang jatuh ke dalam kondisi Diabetes atau penyakit kencing manis.

     

    Jadi penderita PCO dengan resistensi insulin, meskipun tidak ingin hamil tetap harus diterapi karena dalam waktu beberapa tahun ke depan akan bisa jatuh ke dalam kondisi Diabetes. Selain diabetes, sindroma metabolik lain yang dapat diderita pasien PCO yang tidak diterapi antara lain kondisi hipertensi ( tekanan darah tinggi), hiperkolestrolemia (kolestrol tinggi), hipertrigliseridemia (trigliserida atau lemak darah tinggi) dan obesitas. Peninggian hormon LH dan testosteron menyebabkan beberapa penderita PCO mempunyai tanda-tanda hiperandrogenik seperti tumbuhnya bulu halus di atas bibir, dada, kaki, tangan, perut atau sekitar dagu, punggung dan payudara, adanya jerawat berlebih di wajah maupun dada dan punggung, kulit wajah dan kepala yang berminyak. Dua pertiga pasien PCO mempunyai indek massa tubuh berlebih atau gemuk. Lemak yang berlebih ini memproduksi hormon Leptin. Pada orang normal,

    adanya hormon Leptin yang berlebih akan mencegah seseorang makan berlebih saat kondisi kecukupan kalori sudah tercapai. Lain halnya dengan PCO yang menyebabkan kondisi resistensi leptin yaitu kondisi dimana leptin tidak dapat bekerja sehingga pasien PCO cenderung makan terus meski kecukupan kalori telah tercapai. Dengan kata lain kondisi resistensi leptin ini menyebabkan ambang rasa kenyang yang tinggi atau sulit merasa kenyang. Hal ini juga yang menyebabkan pasien PCO jatuh dalam obesitas atau kegemukan dan diabetes. Interaksi antara hormon reproduksi dengan Insulin dan Leptin inilah membentuk kondisi ketidakseimbangan hormonal yang kompleks yang harus diterapi satu demi satu agar kondisi hormon yang optimal dapat tercapai sehingga sel telur mau berkembang dan pecah (ovulasi). Hal ini tentunya membutuhkan waktu berbulan-bulan, kadang bertahun-tahun, tergantung seberapa berat kondisi ketidakseimbangan hormonal yang terjadi, yang tentunya berbeda-beda pada setiap pasien PCO.

     

    Pasien PCO umumnya datang ke Ahli Fertility dengan keluhan mens yang tidak teratur atau sudah lama menikah tapi tidak kunjung hamil. Diagnosis PCO ditentukan berdasarkan ditemukannya 2 dari 3 gejala klinis sebagai berikut yaitu mens yang tidak teratur, tanda-tanda hiperandrogen dan gambaran indung telur yang polikistik pada pemeriksaan USG. Setelahnya akan dilakukan pemeriksaan profil hormon untuk menentukan apakah ada resistensi Insulin, peninggian hormon LH atau kelainan hormon reproduksi yang lainnya. Terapi yang dilakukan akan bergantung pada keluhan dan gejala klinis yang ditentukan serta kelainan hormon yang didapat dari hasil pemeriksaan laboratorium. Terapi lini pertama adalah perubahan gaya hidup dan pola makan (Life style Modification). Pasien PCO dianjurkan berolahraga teratur misalkan jalan pagi atau bersepeda 30 menit setiap hari atau 3-4 x per minggu. Pasien PCO disarankan menurunkan berat badan 10 % dengat berolah raga dan memilih makanan sehat. Hidup seorganik mungkin dengan menghindari junk food (makanan instan, fried chicken, burger) dan daging olahan yang mengandung zat pengawet dan pewarna (misalnya sosis, bakso, siomay). Hindari juga makanan dengan kadar gula atau garam yang tinggi. Hindari polutan lingkungan dan zat kimiawi dalam makanan. Perbanyak makanan berserat yaitu buah-buahan dan sayuran.

     

    Terapi ini dijalankan bersaman dengan terapi obat-obat yang diperlukan. Pasien PCO yang ingin hamil akan diberikan obat yang akan memperbesar sel telurnya sehingga dapat terjadi ovulasi dan dibuahi oleh sperma. Obat untuk memperbesar sel telur ada bermacam-macam dan biasanya akan dimulai dari yang paling sederhana dan dapat ditingkatkan atau diganti jenisnya bergantung dari respons indung telur penderita PCO. Respons yang baik dapat terlihat dari adanya sel telur yg besar saat pemeriksaan USG pada hari ke 11 siklus haid. Pasien PCO dengan kondisi resistensi Insulin akan diberikan obat yang akan meningkatkan sensitifitas terhadap hormon Insulin. Obat ini tidak menurunkan kadar gula darah jadi pasien yg mengkonsumsi obat ini tidak perlu takut dengan kondisi hipoglikemik atau gula darah yang rendah. Respons pengobatan yang baik akan terlihat dari mulai teraturnya siklus haid dan membesarnya sel telur jika distimulasi. Jika tetap tidak didapatkan respon yang diinginkan maka terapi selanjutnya dapat ditingkatkan dengan melakukan LOD (Laparoscopy Ovarian Drilling) atau dengan menyuntikkan FSH (Follicle Stimulating Hormone) rekombinan.

     

    Tentunya hal ini akan didiskusikan dengan pasien sebelumnya. Keinginan pasien akan selalu menjadi prioritas Dokter. LOD adalah prosedur operatif dengan prinsip minimal invasive dimana melalui lubang kecil (0,5 – 1 cm) di perut akan dimasukkan kamera dan alat kecil untuk melakukan drilling atau membuat lubang kecil-kecil sebanyak 4 sampai 6 lubang kecil pada indung telur yang polikistik. Tindakan drilling ini dimaksudkan untuk mengeluarkan hormon LH dan androgen yang berlebih untuk mencapai keseimbangan hormonal sehingga indung telur akan memberi respons yang lebih baik terhadap obat-obat yg akan memperbesar sel telur. Tindakan ini hanya memerlukan 1 hari rawat inap dan pasien dapat beraktivitas normal kembali keesokan harinya. Pilihan lain adalah dengan menyuntikkan FSH rekombinan setiap hari sampai didapatkan sel telur yang besar. Pada pasien PCO yang resisten terhadap obat stimulan seperti Clomiphene Citrat, diperlukan FSH rekombinan untuk memperbesar sel telurnya jika tindakan LOD tidak dilakukan. FSH diberikan dengan dosis kecil dan lama, ditingkatkan secara bertahap sampai didapatkan sel telur yang besar. Kesimpulan: PCO adalah kondisi ketidakseimbangan hormonal yang membuat sel telur tetap kecil sehingga tidak ada sel telur matang untuk dibuahi sperma.

     

    Terapi dilakukan dengan life style modification, pemberian obat-obat stimulan yang memperbesar sel telur, mengatasi kondisi resistensi Insulin dan terakhir dengan LOD atau FSH. Dampak jangka panjang PCO selain infertilitas atau sulit hamil adalah Sindroma Metabolik (Hipertensi, Diabetes, Hiperkolestrolemia, Hipertrigliseridemia dan Obesitas). Ditulis oleh Dr. Caroline Tirtajasa SpOG(K) Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan Subspesialis Fertility dan Hormon Reproduksi Untuk memberi pengetahuan tentang PCO pada masyarakat awam

    Klik Disini Untuk Langsung Berkonsultasi dengan Dr. Caroline Tirtajasa SpOG(K)

    External Link

  • Susah Punya Anak Lagi, Begitu Hamil Langsung Dapat 3

    Pasangan yang susah mendapatkan anak biasanya melakukan segala cara. Jika cara alami gagal membuah hasil, bantuan medis pun dijalani untuk mendapatkan si buah hati.

    Seperti yang dialami pasangan Savitri

    Read More

    Pasangan yang susah mendapatkan anak biasanya melakukan segala cara. Jika cara alami gagal membuah hasil, bantuan medis pun dijalani untuk mendapatkan si buah hati.

    Seperti yang dialami pasangan Savitri (35 tahun) dan Partono (38 tahun). Keduanya memilih cara inseminasi demi mendapatkan anak, setelah sebelumnya keduanya telah memiliki seorang putri yang sudah berusia 4,5 tahun.

    Program inseminasi atau Intra Uterina Insemination (IUI) dilakukan keduanya dengan bantuan dokter Caroline Tirtajasa SpOG (K), SubSpesialis Kebidanan dan Kandungan, Konsultan Fertility di OmniFertility Centre, RS Omni Pulomas, Jakarta Timur.

    Setelah melalui program ini selama 9 bulan, akhirnya upaya ini membuahkan hasil. Pasangan itu pun mendapatkan bayi kembar tiga (triplet) pada 19 Maret 2013, pukul 02.00 WIB di RS Omni Pulomas, Jakarta.

    Ketiga bayi itu lahir dalam keadaan sehat. Dua bayi laki-laki dengan berat 2.780 gram dan 2.710 gram serta satu bayi perempuan dengan berat 2.540 gram. Ketiga bayi itu merupakan hasil proses inseminasi.

    Awalnya, tahun 2007, pasien mendatangi dr. Caroline dengan keluhan sudah satu tahun menikah tidak kunjung hamil. Lalu, diketahui terjadi ketidakseimbangan hormon pada pasien. Akhirnya dilakukan program hamil, seperti mengatur siklus haid serta pemberian obat-obat hormonal selama beberapa bulan dan berhasil membuahkan anak perempuan.

    Namun, setelah anak perempuannya berusia lima tahun, pasien ingin memiliki anak lagi tapi tidak kunjung hamil. Pasien pun kembali periksa ke dr. Caroline.

    dr. Caroline mengatakan, pasien mengalami infertilitas primer dan infertilitas sekunder, sehingga kembali dilakukan program kehamilan seperti sebelumnya. Tapi, tidak berhasil. Akhirnya, dr. Caroline mencoba cara lain.

    "Sel telurnya kebetulan bagus pada saat itu. Saya anjurkan inseminasi dan pasiennya juga bersedia. Lalu kita lakukan prosedur," ujar Caroline.

    Menurut, Caroline, sebenarnya ini termasuk teknologi reproduksi berbantu (TRB) berupa inseminasi intra uterin. Tapi, dengan inseminasi ini akhirnya berhasil hamil.

    "Malah karena ada tiga sel telur besar dan bagus, bisa dibuahi sperma ketiganya, akhirnya jadi tiga bayi," kata dr. Caroline ketika ditemui Liputan6.com di RS Omni Pulomas, Jakarta, Senin (25/3/2013).

    Cara itu langsung berhasil membuat pasien hamil, tidak seperti saat kehamilan pertama yang menggunakan program hamil selama berbulan-bulan. Pasien diketahui memiliki bayi kembar, setelah usia kandungan empat minggu melalui USG transvaginal. 

    Persiapan Matang

    Bayi kembar 3 yang berhasil ditangani Dr. Caroline Tirtajasa, Sp.OG (K), di rumah sakit Omni Pulomas sangat dipersiapkan dengan matang. Dr. Caroline benar-benar menjaga kondisi ibu hamil serta menjaga komunikasi agar kalau terjadi sesuatu bisa segera datang.

    Akhirnya bayi kembar 3 berhasil dipertahankan sampai sembilan bulan, lahir bayinya juga sudah cukup besar. Jadi, langsung rawat gabung dengan ibunya, tidak perlu masuk inkubator.

    Dr. Caroline mengungkapkan, ia sendiri yang membentuk panitia persiapan menyambut kelahiran si kembar tiga. Ia juga berkoordinasi dengan dokter spesialis anak. Karena begitu bayi lahir, dokter spesialis anak akan menangkapnya untuk dibersihkan jalan nafas atau mungkin diresusitasi.

    "Jadi, kita membentuk tim, ada satu dokter spesialis anak yang juga sudah mendalami neonatologi (dokter spesialis yang khusus menangani bayi-bayi lahir kecil). Jadi memang kita sudah persiapkan ke arah sana. Karena memang antisipasi untuk bayi kembar, kita harus siap jika pasien mules atau ketuban pecah sewaktu-waktu".

    "Apabila terjadi saat usia bayi belum matang yang berarti prematur, kita sudah memiliki persiapan itu. Kemudian juga, inkubator harus disiapkan tiga, perawat bayinya juga khusus, tiga orang, alat untuk pernapasan bayi kecil, dan ventilator untuk bayi," jelasnya.

    Proses operasi bayi kembar tiga itu juga tidak terlalu rumit karena semuanya sudah dipersiapkan dengan baik. Lama operasinya kurang lebih 45 menit sampai 1 jam. Jarak lahir per bayinya juga sebentar, sekitar dua menit.

    Lebih murah

    Inseminasi berbeda dengan bayi tabung. Prosedurnya pun lebih sederhana dibanding bayi tabung.

    "Jadi, inseminasi ini, prinsipnya adalah spermanya disiapkan, kemudian ditampung, dipilih dan dicuci. Nah, setelah jadi, biasanya 1 cc, kemudian dengan kateter kecil kita masukkan ke dalam rahim ibu. Setelah itu, sudah, tinggal kita tunggu dua minggu. Kalau dia (pasien) haid berarti gagal. Kalau tidak, ya hamil." jelas Caroline.

    Selain simpel, proses inseminasi ini juga terbilang jauh lebih murah dibanding bayi tabung. Biaya inseminasi mencapai Rp 2,9 juta sedangkan biaya bayi tabung mencapai Rp 60-70 juta. (Zul/Igw)

  • Triplet Bayi Kembar 3 Lahir selamat di RS OMNI Pulomas

    Persalinan bayi kembar 3 atau Triplet berhasil dilakukan dengan selamat di Rumah Sakit Omni Pulomas Jakarta pada 19 Maret 2013. Bayi kembar tiga ini lahir dari program inseminasi.

    Menurut

    Read More

    Persalinan bayi kembar 3 atau Triplet berhasil dilakukan dengan selamat di Rumah Sakit Omni Pulomas Jakarta pada 19 Maret 2013. Bayi kembar tiga ini lahir dari program inseminasi.

    Menurut Dr. Caroline Tirtajasa SpOG (K), Dokter SubSpesialis Kebidanan dan Kandungan di Konsultan Fertility di OmniFertility Centre mengatakan bayi kembar 3 ini merupakan buah hati dari pasangan Ny Savitri (35 tahun) dan Tn Partono (38 tahun).

    Bayi kembar 3 itu merupakan anak kedua dari pasangan Savitri dan Partono. Sebelumnya, keduanya telah memiliki seorang putri yang berusia 4,5 tahun.

    Namun saat sang putri telah berumur 4,5 tahun, Ny. Savitri tidak kunjung hamil kembali sementara pasangan itu telah merindukan kehadiran buah hati lagi untuk meramaikansuasana rumah.

    Akhirnya sekitar 9 bulan yang lalu mereka mengikutiprogram kehamilan dengan Inseminasi oleh Dr. Caroline Tirtajasa SpOG(K) dan berhasil mendapatkan kehamilan kembar tiga.

    Ucapanselamat bertubi-tubi ditujukan kepada pasangan suami istri yang berbahagia, Ny Savitri (35 tahun)dan Tn Partono (38 tahun) yang telah menanti buah hatinya selama 4,5 tahun.

    Ny Savitri dan Tn Partono sejak awal berobat teratur untuk memperolehkehamilan dengan Dr. Caroline Tirtajasa SpOG (K).

    Persalinan kembar 3 ini dilakukan melalui operasi caesar yang langsung ditangani Dr. Caroline beserta timnya.

    Bayi kembar tersebut adalah 2 bayi laki dengan bera tmasing-masing 2.780 gram dan 2.710 gram serta 1 bayi perempuan dengan berat 2.540 gram.

    "Semuanya dalam keadaan baik dan sehat," kata  Dr. Caroline saat ditemui Liputan6.com di ruang praktiknya, Poliklinik Lantai 2 RS Omni Pulomas. (Igw)

  • Video : DIabetes Mellitus Dalam Kehamilan

    Live Talkshow Program O-Klinik OChannelTV bersama Dr. Caroline Tirtajasa, Sp.OG(K)

    Tema   : Diabetes Mellitus Dalam Kehamilan

    Link      :  https://www.youtube.com/watch?v=LI-E_xCW8BI  (Part 1) 
                  

  • Video : Infertilitas Tatalaksana Inseminasi Bayi Tabung

    Live Talkshow Program Health Beauty MNCTV bersama Dr. Caroline Tirtajasa, Sp.OG(K)

    Tema  :  Infertilitas

    Link     :  https://www.youtube.com/watch?v=nRKF-HNayQM

     

    Dr. Caroline Tirtajasa

    Dr. Caroline Tirtajasa

    SpOG(K) | Doctor

    Read More

     

  • Video : Kehamilan Diluar Kandungan (Ectopic Pregnancy)

    Tindakan Kehamilan Diluar Kandungan (Ectopic Pregnancy) yang dilakukan oleh Dr. Caroline Tirtajasa, Sp.OG(K)

    Link   :   https://www.youtube.com/watch?v=yKmNzdAkUwI

  • Video : Laparoscopy Cyctectomy (Pengangkatan Kista dengan Laparoskopi)

    Proses Tindakan Laparoscopy Cyctectomy (Pengangkatan Kista dengan Laparoskopi) yang dilakukan oleh Dr. Caroline Tirtajasa, Sp.OG(K)

    Link :  https://www.youtube.com/watch?v=hPnvCIPEGY8

     

    Dr. Caroline Tirtajasa

    Dr. Caroline Tirtajasa

    SpOG(K) | Doctor

    Read More

  • Video : Pengangkatan Kista Tuba dengan Laparoskopi (Cystectomy)

    Tindakan Pengangkatan Kista Tuba dengan Laparoskopi (Cystectomy) yang dilakukan oleh Dr. Caroline Tirtajasa, Sp.OG(K)

    Link  :  https://www.youtube.com/watch?v=cGyk9F_bdhY

     

     

    Dr. Caroline Tirtajasa

    Dr. Caroline Tirtajasa

    SpOG(K) | Doctor

    Read More

  • Video : Preeklampsia Dalam Kehamilan

    Live Talkshow Program Healthy Life MetroTV bersama Dr. Caroline Tirtajasa, Sp.OG(K)

    Tema  : Preeklampsia Dalam Kehamilan

    Link     :  https://www.youtube.com/watch?v=gvq4EusPa40   (Part 1)

           

  • Video : Tumor Kandungan

    Live Talkshow Progam Health Beauty MNCTV bersama Dr. Caroline Tirtajasa, Sp.OG(K)

    Tema  :  Tumor Kandungan

    Link    :   https://www.youtube.com/watch?v=JRfkJjWavdE

Jadwal Praktek Dokter

Senin - Sabtu        : 09.00-10.30 WIB 

Senin & Jumat      : 17.00 - 18.00 WIB (P)