Pulomas DOCTORS

Dr. Handy Wing, SpB-KBD, FBMS, FINACS, FICS

Doctor

Pulomas Dr. Handy Wing

Dokter Spesialis Bedah Saluran Pencernaan (Digestive Surgeon)

Minimal Invasive Surgery

 

 

 | >dr. Handy Wing, Sp.B, FBMS, FICS - Operasi Bariatric | July 30, 2018

 

Experience

  • Digestive Surgery Subspeciality – Padjajaran University, Bandung
  • Diploma in Laparoscopic Surgery – Strasbourg University, France
  • Fellowship in Bariatric and Metabolic Surgery – I-Shou University, Kaohsiung, Taiwan,
  • Republic of China (R.O.C)
  • Fellowship of International Bariatric Club – IBC Academy
  • Fellowship in Minimal Access, Metabolic and Bariatric Surgery – Max Superspeciality
  • Hospital, New Delhi, India
  • Fellowship & Training Bariatric/Metabolic Surgery– Sri Aurobindo Medical College & Post
  • Graduate Institute, Indore
  • Fellowship Training Course in Coloproctology – Banaras Hindu University, Varanasi
  • Training in Advanced Laparoscopic Colorectal Surgery – University Medical Center, Ho Chi
  • Minh City, Vietnam
  • Training in Gastrointestinal Endoscopy – Siriraj Hospital, Bangkok, Thailand
  • Training in Liver Resection – Cho Ray Hospital, Ho Chi Minh, Vietnam

Other Formal Educations

  • Basic Surgical Skill, 2007
  • Objective Structured Clinical Assessment in General Surgery, 2008
  • Peri-Operative & Critical Care, 2009
  • Definitive Surgical Trauma Care (DSTC), 2009
  • Ultrasonography, 2010
  • Surgical Nutrition in Practice, 2012
  • Minimal Invasive - Basic Laparoscopy Course, 2011
  • Suturing & Knotting in Laparoscopy Course, 2011
  • Total Nutritional Therapy Course, 2012
  • Advanced Laparoscopy Course, 2012
  • Intensive Course Laparoscopic General Surgery, IRCAD – AITS, Taiwan, R.O.C, 2013
  • Bariatric/Metabolic Surgery Hand-on course on animal model & live tissue, India, 2013
  • Advanced Bariatric & Metabolic Surgery Fresh Cadaveric Workshop, University Malaya,
  • 2016
  • Heller Myotomy and Fundoplication Fresh Cadaver Workshop, Siriraj Hospital, Bangkok,
  • Thailand, 2016
  • Mastery Technique in Esophagectomy, Mahidol University, Thailand, 2017
  • ASEAN Colorectal Forum, 2018
  • Liver-GI Fair, Ritz-Carlton, 2019
  • Singapore Colorectal Week, National University Hospital, Singapore, 2019

Kualifikasi :

  • Subspesialis Bedah - Konsultan Bedah Digestif (Saluran Cerna)
  • Digestive Surgery (Gastrointestinal, Hepatopancreaticobiliary and Colorectal Surgery)
  • Laparoscopy (Minimal Invasive Surgery)
  • Bariatric & Metabolic Surgery

Organization

  • IDI (Indonesian Medical Association)
  • IKABI (Indonesian Surgeon Association)
  • ICS (International College of Surgeon)
  • IBC (International Bariatric Club)
  • IEF (International Excellence Federation for Bariatric & Metabolic Surgery)
  • Bedah bariatrik di Indonesia

    Bedah Bariatrik - Operasi Lambung Atasi Kegemukan dan Penyakit Kencing Manis, “Setelah operasi, berat badan turun dan kebanyakan pasien terbebas dari penyakit kencing manis.”

    Indonesia saat ini masuk 10 besar negara

    Read More

    Bedah Bariatrik - Operasi Lambung Atasi Kegemukan dan Penyakit Kencing Manis, “Setelah operasi, berat badan turun dan kebanyakan pasien terbebas dari penyakit kencing manis.”

    Indonesia saat ini masuk 10 besar negara dengan penderita obesitas terbanyak. Sekitar 40 juta orang di Indonesia mengalami kegemukan/obesitas. Menurut data IDF, ada 10 juta kasus diabetes pada tahun 2015. pola makan tinggi gula/karbohidrat, kurang gerak serta kegemukan berpengaruh terhadap peningkatan penderita diabetes. Komplikasi diabetes diantara lain kebutaan, gagal ginjal, luka kronis bahkan amputasi. Obesitas dan diabetes menyebabkan angka harapan hidup berkurang.  Bedah Bariatrik yang melibatkan operasi pengecilan dan bypass lambung belakangan ini semakin digandrungi sebagai salah satu pilihan utama untuk mengobati obesitas dan penyakit diabetes. Di negara barat metode ini sangat digemari karena terbukti efektif menurunkan berat badan secara permanen dan efeknya bertahan jangka panjang. Demikian pula di Singapura dan Taiwan metode ini cukup populer dan ribuan pasien sudah merasakan manfaatnya. Penelitian membuktikan metode operasi terbukti lebih efektif mengontrol diabetes dibandingkan perubahan gaya hidup dan terapi obat-obatan. Dr. Handy Wing, seorang dokter spesialis bedah dari RS OMNI Alam Sutera menjabarkan bahwa saat ini operasi bariatrik dipandang sebagai terapi yang paling efektif mengatasi obesitas dengan efek bonus tambahan mengontrol penyakit diabetes. Tetapi seperti yang diutarakan dr. Handy bahwa metode ini tidak populer dan belum banyak diketahui oleh para pasien maupun kalangan medis sendiri.

    Menurut dr. Handy, segera setelah operasi ini, kadar gula darah kebanyakan pasien akan menjadi normal sehingga tidak memerlukan suntikan insulin maupun obat-obatan diabetes lagi. Berkurangnya asupan dan penyerapan makanan, perubahan bentuk lambung/usus dan peningkatan hormon inkretin menyebabkan gula darah menjadi terkontrol pasca operasi. Setelah operasi tubuh pasien berespons positif dan efisien dalam mengatur pola keseimbangan kadar gula darah. Metode operasi ini semakin menjadi pilihan karena dilakukan dengan teknik laparoskopi / minimal invasif yaitu operasi dilakukan melalui lubang sayatan kecil berukuran 1cm sebanyak 3-4 buah. Keuntungannya rasa nyeri sangat berkurang karena bekas luka sayatan yang sangat kecil. Selain itu secara kosmetik hampir tidak terlihat bekasnya. Kandidat yang paling merasakan manfaat pasca operasi adalah pasien dibawah 60 tahun, belum terlalu lama menderita diabtes dan yang fungsi pankreasnya masih cukup baik. Adapun pasien yang tidak gemuk dan gula darahnya masih stabil dan terkontrol dengan obat-obatan, bukan merupakan kandidat untuk memilih dan menjalani metode operasi ini.

    Selain dua efek utama untuk mengatasi obesitas dan diabetes, bedah bariatrik juga dapat mengatasi penyakit dan komplikasi lain seperti penyakit jantung, kolesterol, gangguan napas, resiko stroke, asam urat dan masalah nyeri sendi, pinggang dan lutut karena berat badan berlebih. Seorang pasien mencerita kisahnya. Novi mengidap diabetes sejak usia 30 tahun dan berbobot hampir 90 kg. Tetapi sejak menjalani bypass lambung, penyakit kencing manisnya terkontrol. Berat badannya pun telah turun menjadi 68 kg dalam jangka waktu 6 bulan dan diharapkan akan mencapai berat badan ideal setelah setahun. Sekarang di usia 45 tahun, dirinya merasa lebih sehat, bertenaga, stamina meningkat dan dapat beraktivitas sehari-hari secara normal tanpa sering merasa kelelahan. Novi juga merasa lega karena tidak perlu lagi menggunakan suntukan insulin yang sudah 5 tahun ia gunakan rutin. Bila dulu Novi merasa sangat sulit mengontrol nafsu makan dan sering ngemil, setelah operasi ia sudah bisa mengatur pola makan lebih baik karena ukuran lambung yang lebih kecil dan sekarang tidak cepat lapar seperti sebelum operasi.
     

    Pulomas Dr. Handy Wing

     

    dr. Handy Wing, Sp.B, FBMS, FINACS, FICS

    Dokter Spesialis Bedah Saluran Pencernaan (Digestive Surgeon)

    Minimal Invasive Surgery

    OMNI Hospital Alam Sutera
     

    Jadwal Praktek Dokter

    Senin, Jumat & Sabtu :  12.00 - 15.00 WIB

    Selasa, Rabu               :  12.00 - 16.00.  WIB

    Kamis                          :  08.00 - 12.00  WIB


    Untuk Mulai Konsultasi Silahkan Hubungi  

    No. Whatapp 021 2977 9999 

     

  • Mengenal Operasi Bariatrik, Solusi Penurunan Berat Badan dengan Metode Terbaru Pengecilan Lambung

    Melalui operasi bariatrik, pasien bisa menurunkan berat badan hingga ideal dan terhindari dari risiko komplikasi penyakit akibat obesitas.

    Dalam ilmu kedokteran, terdapat langkah operasi untuk mengatasi masalah obesitas dan menurunkan berat

    Read More

    Melalui operasi bariatrik, pasien bisa menurunkan berat badan hingga ideal dan terhindari dari risiko komplikasi penyakit akibat obesitas.

    Dalam ilmu kedokteran, terdapat langkah operasi untuk mengatasi masalah obesitas dan menurunkan berat badan hingga ideal, yakni melalui operasi bariatrik. Apa itu operasi bariatrik? Siapa saja yang bisa melakukannya? Dan manfaat apa saja yang didapatkan oleh pasien? Berikut penjelasan dari dr. Handy Wing, Sp.B-KBD, SpB-KBD, FBMS, FINACS, FICS.

    Masalah obesitas atau kelebihan berat badan tidak boleh dianggap sepele. Sebab obesitas bisa meningkatkan risiko terjadinya gangguan kesehatan dari ujung kepala hingga kaki. Diantaranya sakit kepala migren, asma, risiko serangan jantung, hipertensi, asam lambung dan kolesterol meningkat, perlemakan hati, diabetes, gangguan kesuburan, artritis, hingga asam urat.

    Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa pada mereka yang mengalami obesitas, kualitas hidupnya menurun karena mudah lelah dan tidak bisa beraktivitas seperti orang normal pada umumnya. Selain itu, masalah obesitas juga menyebabkan angka harapan hidup lebih pendek akibat risiko penyakit yang muncul dari obesitas.

    Dari pada harus mengonsumsi obat-obatan untuk mengatasi masing-masing penyakit yang muncul karena obesitas, lebih baik mengatasi akar permasalahan yakni menghilangkan obesitas dan menurunkan berat badan hingga ideal dengan cara menjalani operasi bariatrik.

    Operasi Bariatrik

    Dr. Handy Wing menjelaskan operasi bariatrik atau Bariatric Surgery adalah suatu tindakan medis untuk mengatasi permasalahan obesitas yang sudah menyebabkan komplikasi dan gangguan kesehatan.

    "Tujuan dari operasi bariatrik ini adalah untuk mengatasi obesitas dengan cara mengurangi asupan makanan melalui teknik mengubah anatomi dari lambung. Metode operasi batriatrik diantaranya sleeve gastrectomy dan gastric bypass," ujar dr. Handy Wing saat berbincang dengan liputan6.com pada Kamis (15/4).

    Pada metode sleeve gastrectomy, dr. Handy menjelaskan bagian lambung akan dibuang sekiranya 75 persen dan menyisakan 25 persen.

    "Sehingga yang tadinya bisa menampung 1-2 piring porsi makan, setelah menjalani operasi hanya bisa menampung kurang lebih sekitar 5 sendok makan. Dengan asupan makan yang berkurang diharapkan berat badan bisa turun," jelasnya.

    Sementara pada metode gastric bypass, bagian lambung akan disisakan hanya 10 persen dan terpisah dari lambung besar. Dari lambung yang 10 persen itu akan bypass langsung  ke usus halus yang sebelumnya juga dipotong lebih pendek.

    "Sehingga penyerapan makanan tidak lagi melewati lambung yang besar dan usus halus yang panjang. Jadi seperti dibuat jalan tol," kata dr. Handy.

    Siapa saja yang disarankan menjalani operasi bariatrik?

    Operasi bariatrik ditujukan pada orang-orang yang mengalami obesitas berat, yang kelebihan berat badannya di atas 30-40 kg dari berat badan idealnya. Untuk mengetahui berat badan ideal atau tidaknya bisa menggunakan rumus Indeks Massa Tubuh atau Body Mass Index (BMI).

    BMI membandingkan berat badan Anda dengan tinggi badan Anda, dihitung dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan tinggi badan dalam meter kuadrat. Lebih mudah mengetahui BMI Anda dengan aplikasi BMI Calculator. Input tinggi dan berat badan Anda, setelah itu otomatis angka BMI muncul. Kalau BMI di bawah 25 masuk kategori normal, bila di atas 30 seseorang bisa dikatakan menderita obesitas.

    Selain BMI yang tinggi, mereka yang disarankan untuk operasi bariatrik adalah pasien yang mengalami sejumlah penyakit dampak dari obesitas. Seperti yang disebut di awal, mulai dari terganggunya fungsi jantung, paru-paru, sesak nafas hingga sindrom metabolik seperti diabetes.

    Selanjutnya mereka yang selalu gagal menerapkan program diet dan terus berolahraga tapi tidak menurun juga berat badannya, maka operasi bariatrik menjadi solusi terbaik sebelum mengalami sejumlah gangguan kesehatan dan penyakit berbahaya.

    "Pasien yang mengalami masalah kelebihan berat badan, mengalami komplikasi, tidak berhasil dengan metode diet dan olahraga tidak efektif untuk menurunkan berat badan, operasi bariatrik merupakan solusi terakhir," kata dr. Handy.

    Dalam hal usia seseorang yang menderita obesitas harus menjalani operasi bariatrik, dr. Handy Wing menyebutkan bahwa biasanya pasien-pasien obesitas yang sudah melewati masa pertumbuhan. 

    "Hampir tidak ada batasan usia, biasanya pasien-pasien yang sudah melewati masa pertumbuhan. Usianya antara 18-65 tahun. Sepanjang pasien tersebut fit dan bisa menjalani pembiusan dan operasi," ujar dr. Handy Wing yang menambahkan bahwa sebelum tindakan operasi, dokter akan menilai fungsi paru-paru dan jantung pasien terlebih dahulu.

    Operasi Bariatrik Gunakan Teknik Laparoscopy

    Operasi bariatrik tergolong prosedur yang aman dilakukan karena menggunakan teknik operasi laparoscopy yang minimal invasif. Bukan bedah dengan sayatan terbuka, melainkan menggunakan luka-luka kecil sebanyak 4 titik. Menggunakan alat khusus berukuran kecil dengan bantuan kamera dan monitor.

    Bagian lambung yang dipotong kemudian perekatannya dengan cara stapler dengan bahan titanium yang aman sehingga lambung tetap rapat dan bebas dari pendarahan maupun kebocoran.

    "Kemungkinan komplikasi lebih kecil, pendarahan juga lebih sedikit, pemulihan bisa lebih cepat dan bekas luka hanya berukuran 1-1,5 cm sebanyak 4 titik. Walau bagaimanapun operasi tidak luput dari risiko, namun dengan kemajuan teknologi di bidang kedokteran bisa diminimalisir komplikasi dan resikonya," ujar dr. Handy.

    Pasca Operasi Bariatrik

    Dr. Handy Wing mengatakan bahwa lambung yang dipotong butuh waktu kira-kira 1-2 minggu untuk sembuh dan rapat sempurna. Sehingga pasca operasi dalam jangka waktu tersebut, pasien belum diperbolehkan mengonsumsi makanan yang padat. Konsumsi makanan perlu bertahap mulai dari yang cair terlebih dahulu.

    "Dengan lambung yang kemudian berukuran kecil dan kapasitas makan hanya sekitar 5 sendok otomatis masukan vitamin, mineral yang masuk ke tubuh akan lebih sedikit. Agar tidak berisiko kekurangan vitamin dan mineral, setelah operasi metode sleeve gastrectomy khususnya dibutuhkan asupan multivitamin selama 6-12 bulan. Karena bila kekurangan vitamin bisa menyebabkan macam-macam penyakit,: ungkap dri Handy.

    Secara umum dampak metode sleeve gastrectomy lebih baik dari metode gastric bypass, karena pasien obesitas yang disertai penyakit diabetes misalnya selesai menjalani gastric bypass harus mengonsumsi multivitamin seumur hidupnya agar tidak berisiko kekurangan vitamin dan mineral. Hal ini merupakan efek dari penyerapan vitamin dan mineral dari makanan yang dikonsumsi sangat sedikit.

    "Bila sebelumnya pasien rutin suntik insulin atau mengonsumsi obat-obatan diabetes, maka pada pasien yang menjalani operasi gastric by pass, sekitar separuhnya bisa terbebas dari obat-obatan diabetes. Kemudian sebagian lagi, dosisnya berkurang. Misalnya tadinya harus suntik insulin, sekarang bisa hanya obat-obatan minum saja. Bila sebelumnya butuh banyak obat, bisa jadi hanya satu obat saja," jelasnya.

    Penurunan Berat Badan Secara Bertahap

    Operasi bariatrik ini bukan sesuatu seperti sulap atau magic yang membuat pasien obesitas keesokan harinya langsung kurus atau mengalami penurunan berat badan. Setelah operasi dibutuhkan komitmen dan keseriusan pasien untuk menerapkan pola hidup sehat. Meskipun lambung sudah berukuran kecil, pasien juga harus telaten menjaga konsumsi makanan.

    Hindari makanan yang mengandung kalori tinggi dan banyak mengandung gula. Biarpun lambung berukuran kecil, bila seseorang suka minuman soft drink dan kekinian yang berkalori tinggi itu akan membuat tujuan membatasi kalori yang masuk ke tubuh tidak optimal dan bisa mengganggu upaya untuk menurunkan berat badan yang diharapkan.

    "Selain asupan makanan tinggi kalori dikurangi, juga tetap  pola hidup yang aktif. Disarankan untuk berolahraga, misalnya 3-5 seminggu, selama 30 menit -1 jam. Diharapkan dalam jangka waktu 6 bulan - 1 tahun, pasien bisa kembali ke berat badan yang ideal,"

    Itulah gambaran mengenai operasi bariatrik yang bertujuan mengatasi masalah obesitas sekaligus memberikan pemahaman begitu pentingnya menjaga berat badan tubuh agar terbebas dari obesitas dan gangguan kesehatan lain yang lebih berbahaya.

     

    Pulomas Dr. Handy Wing

    Artikel ditulis oleh dr. Handy Wing, Sp.B-KBD, FBMS, FINACS, FICS, Dokter Spesialis Bedah Saluran Pencernaan (Digestive Surgeon) - Minimal Invasive Surgery di OMNI Hospital Alam Sutera.

    Pendidikan & Pelatihan dr. Handy Wing, Sp.B-KBD, FBMS, FINACS, FICS :

    • Basic Surgical Skill, 2007
    • Objective Structured Clinical Assessment in General Surgery, 2008
    • Peri-Operative & Critical Care, 2009
    • Definitive Surgical Trauma Care (DSTC), 2009
    • Ultrasonography, 2010
    • Surgical Nutrition in Practice, 2012
    • Minimal Invasive - Basic Laparoscopy Course, 2011
    • Suturing & Knotting in Laparoscopy Course, 2011
    • Total Nutritional Therapy Course, 2012
    • Advanced Laparoscopy Course, 2012
    • Intensive Course Laparoscopic General Surgery, IRCAD – AITS, Taiwan, R.O.C, 2013
    • Bariatric/Metabolic Surgery Hand-on course on animal model & live tissue, India, 2013
    • Advanced Bariatric & Metabolic Surgery Fresh Cadaveric Workshop, University Malaya,
    • 2016
    • Heller Myotomy and Fundoplication Fresh Cadaver Workshop, Siriraj Hospital, Bangkok,
    • Thailand, 2016
    • Mastery Technique in Esophagectomy, Mahidol University, Thailand, 2017
    • ASEAN Colorectal Forum, 2018
    • Liver-GI Fair, Ritz-Carlton, 2019
    • Singapore Colorectal Week, National University Hospital, Singapore, 2019

    Jadwal praktek :

    • Senin, Jumat & Sabtu : Pk. 12.00 - 15.00 WIB
    • Selasa & Rabu : Pk. 09.00 - 11.00 WIB
    • Kamis : Pk. 08.00 - 12.00 WIB

Jadwal Praktek Dokter

Senin, Jumat & Sabtu :  12.00 - 15.00

Selasa, Rabu              :  12.00 - 16.00

Kamis                          :  08.00 - 12.00